

KUNINGAN — Musim kemarau mulai menunjukkan dampak nyatanya di Kabupaten Kuningan. Warga Desa Pakembangan, Kecamatan Garawangi, kini harus berjuang menghadapi krisis air bersih. Kesulitan ini memaksa warga, yang didominasi oleh kaum ibu, untuk mengantre berjam-jam membawa puluhan jeriken demi mendapatkan pasokan air untuk kebutuhan sehari-hari.
Kondisi memprihatinkan ini memantik respons langsung dari Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar. Ia turun langsung meninjau lokasi antrean air warga di Desa Pakembangan untuk melihat langsung sejauh mana dampak kekeringan yang melanda wilayah tersebut.
- Sempat Diisukan Keracunan, Belasan Santri Ponpes di Kuningan Ternyata Terserang Demam dan Flu Serentak
- Nostalgia di Tepi Sawah, Saung Buhun Sudimampir Tren Kudapan Jadul yang Kian Digandrungi
- Apresiasi Pertumbuhan Ekonomi Kuningan, Golkar Beri Nilai Sempurna untuk Bupati Dian Rachmat Yanuar
- Tim EXPRESSO UNIKU Sabet Juara 1 Hackathon Bank Indonesia 2026 Lewat Inovasi AI “Crypto Sentinel”
- Duduk Satu Meja, Bupati Dian dan Ketua Golkar Kuningan Tepis Isu Keretakan
Tiba di lokasi, Dian langsung berbaur dan menyapa warga yang tengah menanti giliran air. Di dekat sebuah gapura merah putih, tampak seorang ibu paruh baya sedang duduk bersabar memindahkan air sedikit demi sedikit menggunakan gayung dan corong ke dalam deretan jeriken plastik.
“Ini airnya dari mana, Bu? Untuk berapa blok ini?” tanya Dian saat berdialog dengan warga menggunakan bahasa Sunda yang akrab. Warga pun menjelaskan bahwa pasokan air sangat terbatas dan harus dibagi-bagi untuk memenuhi kebutuhan beberapa RT sekaligus.
Melihat kenyataan di lapangan, Dian menegaskan fenomena ini menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi pemerintah daerah.”Nah, ini salah satunya di Desa Pakembangan, mulai tampak masyarakat merasa kekeringan. Ini menjadi salah satu PR bagi kita. Musim kemarau ini sudah terasa dampaknya,” ujar Dian dalam keterangannya di lokasi belum lama ini.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan masalah kekeringan ini kemungkinan tidak hanya terjadi di satu blok atau satu desa saja, melainkan berpotensi meluas ke wilayah lain. Oleh karena itu, ia berjanji akan segera mengeksekusi langkah-langkah strategis untuk menanggulangi krisis air ini.
“Kita sudah membahas untuk menyiapkan langkah-langkah penanganan. Kita akan coba pecahkan secepatnya, berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) serta Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM),” ujarnya.
Di tengah situasi yang sulit, tinjauan tersebut tidak berlangsung tegang. Dian Rachmat Yanuar tetap menyempatkan diri mencairkan suasana dan menghibur warga yang kelelahan mengantre. Candaan ringan yang dilontarkannya sukses memancing tawa lepas para ibu-ibu di lokasi, memberikan sedikit hiburan di tengah krisis air yang melanda desa mereka. (Nars)



