

KUNINGAN — Proyek penggantian ikon Tugu Bola Dunia menjadi Tugu Kuda di pertigaan Jalan Ir. Soekarno, Kabupaten Kuningan, memicu amarah warga. Pada Jum’at (5/9/2026) seorang warga asal Kelurahan Cipari bernama Atang, datang langsung ke lokasi proyek dan mencak-mencak meluapkan kekesalannya kepada kebijakan Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar.
Dalam luapan emosinya, Atang tak segan-segan “menyemprot” sang Bupati dengan kata-katanya. Sambil menggebrak area konstruksi, ia menuding pemerintah daerah saat ini tidak punya rasa hormat terhadap sejarah dan para pendahulunya, khususnya almarhum Bupati Aang Hamid Suganda yang menggagas monumen tersebut.
- Memaknai Rabiul Awal: Teladan Universal Sang Rahmatan Lil ‘Alamin dan Cara Membuktikan Cinta Kepadanya
- Pematokan Hari Ini, Rehabilitasi Jalan Winduhaji-Lebakwangi Senilai Rp 22 Miliar Resmi Dimulai
- Mencak-Mencak Marahi Bupati, Warga Kuningan Murka Tugu Bola Dunia Diganti Kuda: “Jalan Rusak, Uang Rakyat Malah Dibuang!”
- Sejumlah Calon Penerima Bantuan Becak Listrik di Kuningan Jalani Verifikasi dan Uji Coba
- Dedi Mulyadi Terinspirasi Bapak Pembangunan Kuningan, M. Ridho Suganda: Kalau Saya Belajarnya Tiap Hari
“Hei Bupati Kuningan, ingat pada sejarah! Bola Dunia itu hak cipta almarhum Bupati Aang. Di dalam filosofi Tugu Bola Dunia itu menunjukkan Kuningan punya sejarah tingkat internasional, seperti Perundingan Linggarjati. Kalau mau dibongkar, pakai otak, ajak musyawarah sejarawan dan ahli warisnya!” bentak Atang di lokasi pembongkaran.
Atang semakin berang saat menyoroti anggaran proyek yang nyaris menyentuh angka Rp200 juta. Sebagai pembayar pajak, ia merasa haknya dikhianati karena pemerintah daerah justru menghamburkan uang untuk proyek yang sama sekali tidak ada urgensinya, sementara fasilitas umum dibiarkan hancur.
“Saya sebagai rakyat yang bayar pajak kendaraan dan lain-lain sakit hati! Uang 200 juta dibuang untuk proyek yang tidak genting. Coba lihat ke sana, jalanan hancur, aspal rusak! Kenapa anggarannya tidak dipakai untuk memperbaiki jalan lingkungan yang jelas-jelas lebih dibutuhkan warga?” cecarnya dengan nada tinggi.
Kemarahan Atang tak berhenti di pihak eksekutif. Ia juga memarahi dan menuding para anggota DPRD Kabupaten Kuningan mandul dalam melakukan pengawasan. Ia menyebut para wakil rakyat hanya diam dan membiarkan uang daerah lolos untuk pemborosan.
“Dewan kerjanya apa? Di mana fungsi pengawasannya? Gaji saja yang besar tapi membiarkan anggaran lolos untuk merusak bangunan ini. Jangan membodohi rakyat!” tegasnya.
Atang menegaskan, ia sebenarnya tidak membenci simbol kuda khas Kuningan. Namun, ia menilai pemasangan patung kuda bisa dilakukan di persimpangan lain yang masih kosong, seperti Simpang Tiga Caracas, tanpa harus merusak peninggalan bupati sebelumnya. Ia juga membeberkan bahwa di papan proyek tertulis “revitalisasi dan penataan”, namun faktanya monumen yang lama malah dimusnahkan.
Di akhir protesnya, warga Cipari ini memberikan ultimatum keras kepada Bupati dan pelaksana proyek. Ia menuntut agar bagian atas tugu tetap dipasang Bola Dunia.
“Silakan proyek ini lanjut, tapi saya peringatkan, atasnya kembalikan jadi Bola Dunia! Kalau tetap dipaksakan diganti patung kuda, saya ini orang proyek, saya bawa palu, saya gedor dan bongkar sendiri bangunan ini!” ancamnya berapi-api. (Nars)



