KUNINGAN – Raut wajah bahagia terpancar dari para petani di Desa Padarek, Kecamatan Sindangagung, Kabupaten Kuningan. Di tengah aktivitas memanen padi pada awal musim kemarau, Kamis (3/9/2026) sore, mereka mendapat kunjungan dari “anak buah” Prabowo Subianto, yakni Anggota DPRD Kuningan dari Fraksi Partai Gerindra, Sri Laelasari.
Kehadiran wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) 1—yang meliputi Kecamatan Kuningan, Garawangi, Ciniru, Hantara, dan Sindangagung—ini disambut hangat.
- Kebakaran Gunung Ciremai Meluas ke Gunung Dulang, Angin Kencang dan Medan Terjal Hambat Pemadaman
- Geger Kebakaran di SPBE Cigugur Kuningan, Ini Kronologinya
- DAK Fisik Kuningan Nihil di 2027, Sohibul Imam: Penetapan Anggaran Merupakan Kewenangan Pemerintah Pusat
- Ketimpangan Literasi versus Inklusi Keuangan Picu 40 Aduan Setiap Hari, OJK Cirebon Wanti-Wanti Bahaya Penyalahgunaan KTP
- Sambut HUT ke-62 Partai Golkar, Sejumlah Kader Gelar Ziarah, Ini Daftar Lokasi Makam yang Dikunjungi
Dalam obrolan santai di area persawahan tersebut, kegembiraan para petani bukan sekadar karena dikunjungi wakil rakyatnya, melainkan karena harga jual gabah yang saat ini sedang meroket.
Harga Gabah Tembus Rp8.900 per Kilogram
Kondisi awal kemarau rupanya membawa berkah tersendiri bagi pahlawan pangan di desa tersebut. Kepada Sri Laelasari, para petani mengungkapkan bahwa harga gabah saat ini sangat menguntungkan, bergerak naik di kisaran Rp8.500 hingga menyentuh angka Rp8.900 per kilogram pada masa panen kali ini.
Tingginya harga jual inilah yang membuat para petani tampak begitu sumringah.
Di balik rasa syukur atas tingginya harga gabah, momentum silaturahmi ini turut dimanfaatkan para petani untuk menyampaikan sejumlah aspirasi dan kendala di lapangan. Para petani secara terang-terangan mengeluhkan program bantuan bibit dari pemerintah yang kualitasnya dinilai kurang bagus dan kurang diminati.
Demi menjaga kualitas panen, mereka terpaksa harus mengeluarkan modal tambahan untuk membeli bibit secara mandiri yang mutunya lebih terjamin.Tidak hanya mengandalkan padi yang bisa dipanen dua kali dalam setahun, para petani setempat juga rutin menanam ubi jalar sebagai komoditas sela.
Terkait hal ini, mereka menyoroti tata niaga penjualan ubi jalar kepada para tengkulak atau pembeli. Petani berharap sistem penjualan ke depannya bisa dipisahkan berdasarkan kelas atau grade kualitas, bukan lagi disatukan atau diborong secara acak, agar nilai jualnya jauh lebih adil.
Mendengar aspirasi yang komprehensif tersebut, Sri Laelasari menampung keluhan terkait bibit untuk segera dievaluasi bersama dinas terkait. Sementara itu, untuk memberikan jaminan harga dan tata niaga yang lebih baik, politisi Gerindra ini memberikan sebuah solusi strategis.
Ia mengarahkan para petani agar kelak menyalurkan penjualan hasil panen mereka—baik padi maupun ubi jalar yang sudah dipilah sesuai kelasnya—kepada Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) apabila sudah resmi beroperasi. Langkah ini dinilai efektif untuk memutus mata rantai penjualan yang merugikan dan menjamin kesejahteraan petani di Kuningan. (NARS)
