

KUNINGAN – Mengantisipasi ancaman kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di tengah musim kemarau, Masyarakat Peduli Api Paguyuban Silihwangi Majakuning bergerak cepat mengaktifkan kembali embung penampungan air di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai pada Senin (14/9/2026).
Fasilitas penampungan air berkapasitas empat ribu liter yang berada di kawasan Bukit Seribu Bintang pada ketinggian seribu meter di atas permukaan laut tersebut sempat tidak berfungsi selama dua tahun terakhir akibat kerusakan instalasi saluran.
- Kasus Dugaan Keracunan MBG di Ciwaru: Satgas Telusuri Dapur Pengolah dan Uji Rantai Pasok Makanan
- Diduga Keracunan Program MBG, Puluhan Siswa di Ciwaru Dilarikan ke Puskesmas, Satu Dirujuk ke RS
- Siaga Karhutla Ciremai, Relawan MPA Silihwangi Majakuning Aktifkan Embung 4.000 Liter
- Hj Tina Wiryawati Ubah Wajah Sungai Cisanggarung, Warga Kadugede Bersiap Sambut Kawasan Wisata
- Sinergi Tina Wiryawati dan Budayawan Kuningan: Cegah Generasi Muda Lupa Akar Budaya Melalui Padepokan Seni Silat
Sebanyak dua puluh relawan terjun langsung ke lokasi untuk membersihkan waduk penampungan serta memperbaiki jalur pipa sepanjang lima kilometer yang menghubungkan sumber air dari mata air Sibagawat menuju titik penampungan di area hutan.
Ketua MPA Paguyuban Silihwangi Majakuning, H. Nandar Juniar Arif, menjelaskan bahwa pihaknya turut menempatkan satu unit toren berkapasitas seribu liter di kontur yang lebih tinggi agar distribusi air dapat mengalir secara gravitasi ke titik-titik rawan di bawahnya.
Langkah mitigasi ini dinilai sangat krusial mengingat kondisi vegetasi di kawasan konservasi tersebut mulai mengering dan dipenuhi ilalang serta tanaman perdu yang sangat rentan memicu percikan api akibat cuaca panas ekstrem.
Selain berfungsi sebagai pos siaga darurat bencana, keberadaan infrastruktur air tersebut nantinya juga akan dimanfaatkan untuk mendukung program konservasi seperti pembibitan dan pemeliharaan tanaman endemik saat musim penghujan tiba.
Seluruh kegiatan swadaya yang digerakkan tanpa honorarium ini dilakukan melalui koordinasi intensif dengan pihak balai pengelola kawasan guna memastikan perlindungan ekosistem Gunung Ciremai tetap terjaga secara berkelanjutan. (NARS)



