
KUNINGAN – Mengantisipasi ancaman kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di tengah musim kemarau, Masyarakat Peduli Api Paguyuban Silihwangi Majakuning bergerak cepat mengaktifkan kembali embung penampungan air di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai pada Senin (14/9/2026).
Fasilitas penampungan air berkapasitas empat ribu liter yang berada di kawasan Bukit Seribu Bintang pada ketinggian seribu meter di atas permukaan laut tersebut sempat tidak berfungsi selama dua tahun terakhir akibat kerusakan instalasi saluran.
- Respons Cepat Bencana Maleber, Tim Gabungan BPBD, TNI-Polri, dan PLN Evakuasi Warga serta Buka Akses Jalan
- Terjang 5 Desa di Maleber, Angin Puting Beliung Rusakkan 80 Rumah Warga Kuningan
- Musim Hujan Tiba, Sejumlah Wilayah Kuningan Dihantui Bencana Pohon Tumbang dan Banjir
- Jaga Tradisi Kawin Cai di Babakanmulya, Sri Laelasari Tekankan Pentingnya Merawat Mata Air demi Masa Depan
- Upacara Adat Kawin Cai Balong Dalem Masuk Kalender Wisata, Ini Kata Plt Kadisporapar Kuningan
Sebanyak dua puluh relawan terjun langsung ke lokasi untuk membersihkan waduk penampungan serta memperbaiki jalur pipa sepanjang lima kilometer yang menghubungkan sumber air dari mata air Sibagawat menuju titik penampungan di area hutan.
Ketua MPA Paguyuban Silihwangi Majakuning, H. Nandar Juniar Arif, menjelaskan bahwa pihaknya turut menempatkan satu unit toren berkapasitas seribu liter di kontur yang lebih tinggi agar distribusi air dapat mengalir secara gravitasi ke titik-titik rawan di bawahnya.
Langkah mitigasi ini dinilai sangat krusial mengingat kondisi vegetasi di kawasan konservasi tersebut mulai mengering dan dipenuhi ilalang serta tanaman perdu yang sangat rentan memicu percikan api akibat cuaca panas ekstrem.
Selain berfungsi sebagai pos siaga darurat bencana, keberadaan infrastruktur air tersebut nantinya juga akan dimanfaatkan untuk mendukung program konservasi seperti pembibitan dan pemeliharaan tanaman endemik saat musim penghujan tiba.
Seluruh kegiatan swadaya yang digerakkan tanpa honorarium ini dilakukan melalui koordinasi intensif dengan pihak balai pengelola kawasan guna memastikan perlindungan ekosistem Gunung Ciremai tetap terjaga secara berkelanjutan. (NARS)
