
KUNINGAN — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem, khususnya fenomena hujan es.
Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena jatuhnya butiran es dari atmosfer ini dipicu oleh pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) yang menjulang tinggi dan kerap disertai hujan lebat, angin kencang, serta petir.
- BPBD Kuningan Imbau Warga Waspadai Fenomena Hujan Es Akibat Awan Cumulonimbus
- Hujan Disertai Angin Kencang Hantam Dua Kecamatan di Kuningan, BPBD Lakukan Asesmen Dampak
- 8 Wartawan Balon Ketua Mengemuka Jelang Akhir Masa Jabatan PWI Kuningan, Siapa Saja?
- DPC PPP Kabupaten Kuningan Sikapi Hasil Rakornas dengan Arif, Pastikan Soliditas Kader di Akar Rumput Tetap Terjaga
- Anggota Komisi VIII DPR RI Selly Gantina Dorong Warga Cirebon Maksimalkan Beasiswa UIN Siber Syekh Nurjati
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kuningan, Indra Bayu Permana, menjelaskan, fenomena alam ini tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui proses atmosfer yang cukup kompleks di dalam awan Cb.Berdasarkan penuturan Indra yang merujuk pada penjelasan BMKG, awan Cumulonimbus merupakan awan hujan tebal dan gelap menyerupai bentuk jamur yang puncaknya dapat mencapai ketinggian 15 hingga 18 kilometer.
” Pada ketinggian tersebut, puncaknya menembus lapisan atmosfer dengan suhu jauh di bawah titik beku nol derajat Celsius,” terangnya, Selasa (3/11/2026).
Di dalam awan tersebut, imbuhnya, terdapat arus udara naik yang sangat kuat atau updraft. Angin kencang ke atas ini bertugas membawa tetesan air menuju lapisan atas yang bersuhu sangat dingin.
Di lapisan atas tersebut, air bersuhu di bawah titik beku yang belum membeku, atau yang biasa dikenal sebagai tetesan air superdingin (supercooled water), akan langsung membeku seketika saat menempel pada inti es atau partikel debu.
Proses tersebut berlanjut pada siklus naik-turun, di mana butiran es yang terbentuk terus diangkat oleh arus angin ke atas dan jatuh ke bawah secara berulang kali. Setiap kali berputar di dalam awan, butiran es tersebut menangkap lapisan air baru sehingga ukurannya semakin membesar.
Fenomena ini paling sering terjadi pada masa peralihan musim atau pancaroba akibat pemanasan matahari yang kuat pada pagi hingga siang hari yang menciptakan labilitas atmosfer tinggi.Ketika beban dan berat butiran es sudah tidak mampu lagi ditahan oleh dorongan arus udara ke atas, es tersebut akhirnya jatuh ke permukaan bumi.
Karena proses jatuhnya sangat cepat dengan durasi yang singkat, es tidak sempat mencair sepenuhnya sebelum menyentuh tanah.Terkait karakteristiknya, Indra menyampaikan bahwa hujan es memiliki durasi yang sangat singkat, yakni berkisar antara 5 hingga 15 menit, serta melingkupi skala wilayah yang terbatas atau lokal.
Kehadirannya pun hampir selalu dibarengi dengan cuaca ekstrem berupa hujan lebat, angin kencang, serta kilat atau petir.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, BPBD Kuningan juga meminta masyarakat mengenali tanda-tanda alam sebelum hujan es terjadi.
Beberapa indikasi yang perlu diwaspadai di antaranya adalah kondisi langit yang mendadak gelap atau pekat dalam waktu singkat, suhu udara sekitar yang berubah drastis menjadi sangat dingin, angin kencang yang tiba-tiba bertiup menguat atau berubah arah, serta turunnya hujan deras secara mendadak.
Indra mengimbau seluruh warga Kabupaten Kuningan agar tetap tenang namun selalu siaga menghadapi potensi cuaca ekstrem selama masa peralihan musim ini, serta segera mencari tempat berlindung yang aman dan kokoh saat tanda-tanda tersebut mulai muncul. (NARS)
