
KUNINGAN — Pemerintah Kabupaten Kuningan memperkuat komitmen pelestarian lingkungan melalui pendekatan inovatif yang memadukan kearifan lokal dan sains modern.
Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani, dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Pengembangan Model Living Lab “TIRTHA PAWITAN” dengan tema Living Lab Sumber Mata Air dari Tradisi Kawin Cai untuk Konservasi dan Ketahanan Air Kabupaten Kuningan, yang digelar di Desa Babakanmulya, Kecamatan Jalaksana, Sabtu (31/10/2026).
- Pohon Ikonik di Jalan Siliwangi Kuningan Tercoreng Tumpukan Sampah Liar, Warga Minta Pemda Bertindak
- Tradisi Kawin Cai Bersanding dengan Sains – Wabup Tuti Andriani Dorong Living Lab untuk Konservasi Air
- Berpacu dengan Waktu dan Risiko di Dalam Sumur, Petugas Damkar Selamatkan Anak Kerbau
- Bupati Kuningan Ungkap Langkah Cepat Penanganan Bencana Puting Beliung dan Mitigasi Musim Hujan
- Solusi Baru Bagi Perantau, Bhisa Shuttle Resmikan Outlet Baru yang Lebih Nyaman
Puncak tradisi Kawin Cai yang sukses diselenggarakan di Balong Dalem, Desa Babakan Mulya, mendapatkan apresiasi tinggi dari Wakil Bupati Kuningan. Persiapan matang yang dilakukan selama satu bulan oleh para kepala desa se-Kecamatan Jalaksana bersama panitia dan masyarakat dinilai sebagai bukti nyata komitmen menjaga warisan budaya leluhur.
“Reueus (bangga), tradisi Kawin Cai tetap bisa berlangsung setiap tahun. Terima kasih kepada para kepala desa se-Kecamatan Jalaksana yang selalu menghadirkan tradisi-tradisi yang memang harus kita budayakan dan lestarikan,” ujar Wakil Bupati Tuti Andriani dalam sambutannya.
Tuti menambahkan, air adalah sumber utama kehidupan yang harus dijaga bersama.Inisiatif Living Lab ini merupakan tindak lanjut dari rangkaian silaturahmi dan audiensi ke kementerian pada Juni 2025 lalu, termasuk pertemuan dengan pihak Kemendiktisaintek serta Direktur Diseminasi Saintek.
Dari diskusi tersebut, muncul gagasan besar untuk menyelaraskan khazanah seni budaya lokal dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.Program konservasi ini turut didukung penuh oleh Universitas Teknologi Bandung (UTB), UNIKU, Yayasan Hibar Budaya Nusantara, serta lembaga riset akademik.
Perhatian dari sisi akademik dan penelitian ini diharapkan mampu memberikan dampak positif yang kuat bagi masyarakat, sekaligus mengedukasi generasi muda tentang pentingnya merawat alam.
Di tengah berbagai tantangan fenomena alam dan bencana yang sempat menimpa wilayah sekitar—seperti di Kecamatan Maleber—kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan dan merawat sumber mata air menjadi semakin penting.
Pemerintah Kabupaten Kuningan berkomitmen untuk terus mendukung langkah-langkah strategis ini melalui sinergi lintas dinas, mulai dari Bappeda, Dinas Lingkungan Hidup, Disdikbud, hingga Disporapar. Rangkaian kegiatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat luas di Kabupaten Kuningan. (NARS)
