

BOGOR – Tata kelola ekowisata berbasis sains kini menjadi kunci utama dalam menjaga kelestarian taman nasional di Indonesia tanpa harus mengorbankan ekosistem alam. Hal tersebut diungkapkan oleh Guru Besar Universitas Indonesia sekaligus ahli biologi konservasi Prof Drs Jatna Supriatna PhD yang menyoroti pentingnya perhitungan daya tampung kawasan untuk mencegah kerusakan lingkungan.
Menurut pakar zoologi tersebut, penumpukan pengunjung di satu titik wisata kerap terjadi akibat minimnya pemecahan rute destinasi seperti yang pernah terlihat pada manajemen lawas di kawasan Gunung Gede Pangrango.
- Tata Kelola Ekowisata Berbasis Sains Kunci Kelestarian Taman Nasional
- Solusi Pakan Ikan Murah, Dosen IPB Olah Maggot di Desa Cirea Kuningan
- Pandangan Satria Rizky Utama terhadap Polemik Penggantian Tugu Bola Dunia Menjadi Patung Kuda
- Kritik Pembongkaran Tugu Bola Dunia Jadi Patung Kuda, Nuzul Rachdy: Pemda Cederai Nilai Historis Bupati Terdahulu
- Belajar Integritas dan Hidup Bersahaja dari Sosok Sutami dan Agus Salim
Pengelolaan yang berjalan tanpa perencanaan ilmiah itu pada akhirnya memicu pemandangan memprihatinkan berupa tumpukan sampah dan limbah kotoran manusia yang dibuang sembarangan oleh para pendaki.
Tokoh pelestarian keanekaragaman hayati ini juga meluruskan ketakutan tradisional masyarakat yang sering beranggapan bahwa pariwisata secara otomatis akan merusak habitat satwa liar.
Jatna memaparkan bahwa hewan endemik sejatinya memiliki kemampuan adaptasi yang sangat tinggi terhadap kehadiran manusia, asalkan aktivitas wisata dikalkulasi secara cermat melalui pendekatan sains yang mencakup aspek biologis, ekologis, dan perilaku satwa.
Bukti nyata dari penerapan tata ruang yang terencana dengan baik dapat ditemukan pada kawasan Gunung Ciremai di wilayah Kabupaten Kuningan melalui pembukaan jalur pendakian yang lebih menyebar.
Berdasarkan analisis data spasial yang dipantau sejak era sembilan puluhan, gunung tertinggi di Jawa Barat tersebut justru mencatatkan tingkat pemulihan alam paling optimal karena beban kapasitas kunjungannya berhasil dipecah agar tidak terpusat di satu lokasi.
Konsep pariwisata yang dikelola melalui perhitungan sains ketat ini juga telah terbukti sukses diterapkan pada wisata pengamatan gorila gunung di benua Afrika. Pihak pengelola kawasan menetapkan tarif masuk hingga ratusan dolar dan memberlakukan sistem daftar tunggu mencapai enam bulan demi menjaga kuota kunjungan manusia yang berinteraksi dengan satwa langka tersebut.
Sistem pengaturan pengunjung serupa yang murni ditopang oleh penelitian ilmiah turut dijalankan secara disiplin di Gunung Kinabalu Malaysia dan kawasan Jiuzhaigou Tiongkok. Kedua destinasi bertaraf internasional itu menata seluruh fasilitas pendukungnya secara mendetail serta menetapkan kebijakan penutupan total akses kunjungan pada musim tertentu demi memberikan waktu jeda bagi ekosistem untuk memulihkan diri.
Sebagai langkah keberlanjutan, Jatna memaparkan bahwa pemeliharaan seluruh kawasan konservasi tersebut sangat bergantung pada kejelasan sistem sirkulasi pendapatan pariwisata.
Keuntungan finansial dari sektor ekowisata tidak seharusnya sekadar masuk dan mengendap di kas negara, melainkan wajib diputar kembali secara langsung dengan melibatkan peran swasta untuk mendanai program pemulihan taman nasional. (Nars)



