

KUNINGAN – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kuningan Nuzul Rachdy mengkritik keras kebijakan pemerintah daerah terkait pembongkaran Tugu Bola Dunia untuk dialihfungsikan menjadi patung kuda.
Menurutnya, langkah merombak bangunan ikonik tersebut mencederai nilai historis serta mengabaikan warisan kepemimpinan bupati terdahulu.
- Kritik Pembongkaran Tugu Bola Dunia Jadi Patung Kuda, Nuzul Rachdy: Pemda Cederai Nilai Historis Bupati Terdahulu
- Belajar Integritas dan Hidup Bersahaja dari Sosok Sutami dan Agus Salim
- PHRI Kuningan Sebar Ratusan Paket Makan Siang untuk Warga Lewat Aksi Jumat Berkah
- Gebrakan Detektif Stunting Ala Kepala Puskesmas Kuningan Selamatkan Puluhan Balita
- Pimpin Lapas Kuningan Eries Sugianto Siap Bangun Sinergi Lintas Sektoral
Saat dikonfirmasi Jum’at (21/8/2026), Nuzul menegaskan, setiap kepala daerah seharusnya menjaga dan merawat capaian pemimpin sebelumnya, bukan malah membongkar simbol sejarah yang telah mengakar kuat di ruang publik.
“Pembangunan ikon baru tidak boleh menghapus rekam jejak yang sudah terbangun. Kalau menurut saya, legasi pimpinan sebelumnya itu harus dipertahankan. Kalau misalnya mau ada ikon baru yang menyangkut mengenai ikon Kabupaten Kuningan, ya kan bisa di tempat lain,” ujar Zul, sapaannya, kepada jurnalis Kuningan Religi saat dimintai tanggapan.
Ia kemudian mencontohkan etika kesinambungan kepemimpinan birokrasi di daerah lain yang tetap melanjutkan program kerja pendahulunya.
Zul mencontohkan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang terlebih dahulu menanyakan apa yang belum selesai pada saat zaman Fauzi Bowo, zaman Anies Baswedan, dan zaman Ahok, itu dilanjutkan. ” Jadi legasi pimpinan-pimpinan sebelumnya itu dipertahankan,” tegasnya lagi.
Untuk diketahui, Tugu Bola Dunia yang berdiri di kawasan perlintasan Jalan Soekarno-Hatta ini memiliki jejak sejarah penting karena dibangun bersamaan dengan lahirnya slogan Kuningan Bangkit pada era kepemimpinan almarhum Bupati H. Aang Hamid Suganda.
Keberadaan monumen tersebut selama bertahun-tahun telah menjadi penanda visual perjalanan pembangunan daerah serta menjadi salah satu markah tanah yang sangat melekat dalam ingatan masyarakat setempat.
Di sisi lain, proyek revitalisasi yang diusung pemerintah daerah bertujuan mengubah kawasan Bundaran Bola Dunia menjadi Bundaran Patung Kuda Kuningan Melesat. Sosok kuda dipilih karena merupakan lambang resmi daerah yang dinilai merepresentasikan identitas kultural lokal secara utuh.
Penataan ini sekaligus dimaksudkan untuk menyelaraskan lanskap kawasan perlintasan dengan arah jargon pembangunan daerah yang berlaku saat ini.
Berdasarkan data Dokumen Pelaksanaan Anggaran Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Kuningan per Agustus 2026, proyek penataan infrastruktur ini didanai melalui pos Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
Nilai pagu anggaran yang disiapkan tercatat sebesar Rp200.000.000,00 dengan Harga Perkiraan Sendiri senilai Rp199.445.000,00 untuk membiayai pembongkaran bola dunia, pembuatan fondasi patung kuda, pemasangan plang nama slogan baru, serta penataan trotoar dan lanskap taman. (Nars)



