

KUNINGAN — Pola penanganan stunting di wilayah Kecamatan Kuningan kini berubah total menyusul hadirnya inovasi Detektif Stunting yang digagas oleh UPTD Puskesmas Kuningan.
Program yang menyasar 89 balita di delapan desa dan kelurahan ini memadukan pemeriksaan medis langsung oleh dokter, perbaikan nutrisi berbasis protein hewani, hingga penelusuran kondisi sanitasi tempat tinggal keluarga sasaran.


Pendekatan terpadu tersebut terbukti langsung membuahkan hasil nyata dalam waktu enam pekan, di mana lima balita tercatat berhasil pulih dan keluar dari status stunting.
- Belajar Integritas dan Hidup Bersahaja dari Sosok Sutami dan Agus Salim
- PHRI Kuningan Sebar Ratusan Paket Makan Siang untuk Warga Lewat Aksi Jumat Berkah
- Gebrakan Detektif Stunting Ala Kepala Puskesmas Kuningan Selamatkan Puluhan Balita
- Pimpin Lapas Kuningan Eries Sugianto Siap Bangun Sinergi Lintas Sektoral
- 10 Bulan Menoreh Prestasi di Lapas Kuningan, Sukarno Ali Resmi Emban Tugas Baru di Ditjenpas
Kepala UPTD Puskesmas Kuningan, Ina Listiana, menegaskan bahwa penuntasan gangguan pertumbuhan anak tidak boleh hanya berhenti pada kegiatan seremonial atau sekadar pencatatan statistik. Menurutnya, pemenuhan gizi berupa pemberian asupan satu hingga dua butir telur setiap hari selama tiga bulan penuh harus berjalan beriringan dengan pengobatan penyakit penyerta dan perbaikan lingkungan.
“Formula kerja terpadu ini sengaja dirancang untuk mendeteksi potensi infeksi kronis seperti tuberkulosis pada anak, sembari memastikan ketersediaan sarana air bersih serta jamban sehat di setiap rumah sasaran,” ungkap Ina, Jum’at (21/8/2026).
Langkah jemput bola tersebut mendapat apresiasi tinggi dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan, Edi Martono, yang menilai keterlibatan penuh tenaga dokter dan jajaran puskesmas sebagai pembeda utama program ini.
Edi menyebut skema intervensi yang dijalankan mampu menjawab akar masalah stunting secara lebih terukur karena riwayat klinis setiap anak dipantau ketat sejak awal. Pemeriksaan medis secara menyeluruh dinilai menjadi kunci utama dalam menentukan penanganan yang tepat sebelum intervensi gizi diberikan kepada balita.
Dukungan serupa datang dari Camat Kuningan, Deni Hamdani, yang menyoroti keberhasilan program dalam menggerakkan partisipasi lintas sektor dan swadaya masyarakat. Deni sempat mengkhawatirkan tingginya kebutuhan pasokan telur yang mencapai lebih dari satu ton, namun kolaborasi erat antara puskesmas, aparat desa, serta pemanfaatan dana tanggung jawab sosial perusahaan mampu menutup seluruh kebutuhan tersebut.
Sinergi antara empat desa dan empat kelurahan di wilayah kerjanya berjalan cepat karena adanya komunikasi intensif dari tim lapangan. Sentuhan kepemimpinan yang aktif turun ke lapangan juga dirasakan langsung oleh aparatur desa, sebagaimana diakui oleh Kepala Desa Kedung Arum, Sarip Hidayat.
Sarip menceritakan bahwa tim kesehatan tidak segan mendampingi langsung anak-anak yang memerlukan rujukan ke rumah sakit, membantu pengurusan jaminan kesehatan bagi keluarga prasejahtera, hingga memulihkan balita yang mengalami indikasi gizi buruk di desanya.
Dedikasi tersebut membuat jajaran pemerintah desa dan para kader posyandu semakin terpacu untuk bergerak bersama mengawal pertumbuhan anak di wilayah masing-masing.Inisiatif Detektif Stunting yang digarap bersama petugas gizi dan jajaran manajemen puskesmas ini sekaligus merevolusi pola kerja petugas sanitasi lingkungan.
Alih-alih hanya mengejar angka target pelaporan inspeksi berkala, tim sanitarian kini fokus memastikan setiap temuan risiko kesehatan di lapangan mendapat penanganan tuntas demi masa depan tumbuh kembang generasi penerus di Kuningan. (Nars)



