

KUNINGAN – Rencana Pemerintah Kabupaten Kuningan merombak Tugu Bola Dunia Kuningan menjadi ikon kuda dengan anggaran Rp200 juta kini memicu polemik. Proyek penataan di Jalan Soekarno-Hatta ini mendapat kritik karena dinilai sebagai pemborosan uang daerah dan berpotensi menghapus jejak sejarah pembangunan yang sudah melekat di masyarakat.
Penataan kawasan ini rupanya tidak sekadar mengubah wujud fisik monumen yang sudah lama berdiri. Semboyan ikonik bertuliskan Kuningan Bangkit yang selama ini terpampang di area tersebut juga dipastikan lengser dan akan diganti dengan slogan baru yang berbunyi Kuningan Melesat pada tahun 2026.
- 10 Bulan Menoreh Prestasi di Lapas Kuningan, Sukarno Ali Resmi Emban Tugas Baru di Ditjenpas
- Proyek Tugu Bola Dunia Kuningan Rp200 Juta, DEEP Kuningan: Pemborosan!
- Dugaan Ancaman Aktivis Kuningan Berulang, Kasus ITE Resmi Ditangani Polisi
- KKN Expo 2026 UNIKU Pamerkan Puluhan Inovasi Unggulan Desa
- Tradisi Sadranan Makam Imbakerti Cikaso dan Jejak Bupati Masa Awal Islam
Perubahan wajah monumen itu langsung mendapat sorotan dari lembaga Democracy and Electoral Empowerment Partnership (DEEP) Kabupaten Kuningan. Perwakilan lembaga tersebut, Habib, menyayangkan langkah pemerintah yang dinilai tidak menghargai karya peninggalan era almarhum Bupati Aang Hamid Suganda.
“Kalau memang mau membuat tugu baru, minimalnya di lokasi yang baru. Jangan sampai menghilangkan jejak sejarah pembangunan yang ada,” ucap Habib.
Ia menambahkan, berdasarkan dokumen Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Kuningan tahun anggaran 2026, proyek perombakan ini sepenuhnya menyedot Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
Dana ratusan juta rupiah itu akan dialokasikan untuk biaya persiapan, pergantian plang nama, perombakan tugu, hingga perbaikan trotoar di kawasan Kelurahan Winduherang selama 60 hari kerja.
Habib memandang alokasi anggaran tersebut sangat tidak mencerminkan asas efisiensi karena tujuannya hanya menimpa karya yang sudah ada. “Ini tentunya menjadi pemborosan anggaran kalau hanya mengubah ikon yang sudah ada. Kalau pun mau membuat tugu, lebih baik dibuat di lokasi yang baru, sehingga ikon lama tetap menjadi bagian dari sejarah pembangunan Kuningan,” singgungnya.
Pembangunan infrastruktur kota semestinya tidak selalu diartikan dengan cara membongkar dan mengganti simbol warisan dari pemerintahan terdahulu. Ia mengingatkan agar pemerintah dapat lebih matang mengkaji efisiensi dana sekaligus menghargai memori kolektif daerah.
“Jangan sampai pembangunan hari ini justru menghapus sejarah pembangunan sebelumnya. Setiap era memiliki cerita dan kontribusinya masing-masing,” ujar Habib. (Nars)



