

KUNINGAN – Lantunan doa menyelimuti kompleks salah satu Makam Keramat di Desa Cikaso, Kecamatan Kramatmulya, Kabupaten Kuningan. Tepat pada tanggal 18 Agustus pukul 13.00 WIB, ratusan warga dan tokoh masyarakat khusyuk menggelar tradisi Sadranan di makam leluhur purba desa, Imba Kerti yang juga bergelar Patih Tumunggung Argawijaya.
Acara sakral ini diinisiasi oleh Pemdes Cikaso bersama Lembaga Adat Desa, Kampung Tengger—sebuah institusi pelestari budaya yang didirikan setahun lalu guna menjaga muruah tradisi Cikaso.
- Tradisi Sadranan Makam Imbakerti Cikaso dan Jejak Bupati Masa Awal Islam
- Tak Digaji Pemerintah, Relawan Peduli Api di Gunung Ciremai Dapat Apresiasi DPR, Desak Menhut Beri Fasilitas
- Dukung Pengentasan Stunting, Dapur MBG Babakanjati Pastikan Kualitas Gizi Anak Jadi Prioritas Utama
- Ketua DPRD Kuningan Tuding Eksekutif Sepelekan Revisi RTRW dan Tak Hargai Rakyat
- Kepala Dinas Kompak Absen, Audiensi RTRW Kuningan Dibubarkan: Relawan Lingkungan Ancam Aksi Massa
Sadranan kali ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi tahunan, melainkan napak tilas sejarah peradaban besar Kuningan, terlebih momentum ini bertepatan dengan semarak peringatan Hari Jadi ke-528 Kuningan.
Dalam babad Cikaso, Imba Kerti bukanlah sosok sembarangan. Beliau merupakan penasihat utama Tumenggung Cikaso yang dikenal arif, bijaksana, serta memiliki ilmu yang dalam sehingga kerap menjadi tempat masyarakat bertukar pikiran.
Dalam mengemban amanahnya, Imba Kerti didukung oleh dua orang adiknya, yakni Imbawacana yang piawai membantu urusan pemerintahan, serta Imbasuta yang merupakan pakar di bidang kesejahteraan rakyat dan pertanian.
Sejarah Desa Cikaso juga mencatat bahwa kompleks keramat ini merupakan saksi bisu perjuangan melawan penjajah, di mana tokoh-tokoh besar seperti Patih Nagareja turut disemayamkan di tempat ini.
Namun, gelaran Sadranan tahun ini memberikan resonansi sejarah yang lebih luas berkat temuan jejak pemimpin Kuningan masa lampau.
Sementara, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Pemkab Kuningan, Emup Muplihudin, mengungkapkan informasi terkait sejumlah makam keramat di Desa Cikaso ini.
“Semula ada info di Cikaso ada dua makam mantan Bupati Kuningan pra-kemerdekaan atau pada masa awal Islam, yaitu makam Brataningrat 1 dan Brataamidjaya. Saat ini, yang baru terlihat dan teridentifikasi adalah makam Brataamidjaya, yang merupakan Bupati ke-3 pada masa Islam masuk,” ungkap Kabag Kesra Pemkab Kuningan, Emup Muplihudin.
Kepala Desa Cikaso, Hidayat, S.E., menyambut baik pengungkapan tabir sejarah ini. Menurutnya, keberadaan pusara tokoh-tokoh penting ini semakin mempertegas posisi Desa Cikaso bukan hanya sebagai benteng pertahanan adat, tetapi juga episentrum penyebaran agama dan pemerintahan Islam di masa lampau. (Nars)



