

KUNINGAN – Upaya pelestarian kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) dari ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta pembalakan liar terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektoral. Pemerintah, aparat keamanan, dan kelompok masyarakat kini bersatu padu menjadikan wilayah Pasawahan dan sekitarnya sebagai garis pertahanan utama dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
- Sinergi Lintas Sektor Jaga Ciremai, Seribuan Anggota MPA Paguyuban Silihwangi Bersatu Cegah Karhutla di Lereng Ciremai
- Bupati Kuningan Unjuk Prestasi di Hadapan Gubernur, KDM Tekankan Pentingnya Keteladanan Pemimpin
- Gubernur Dedi Mulyadi Soroti RTRW Kuningan: Kelestarian Gunung Ciremai Adalah Nadi Kehidupan
- Hari Jadi ke-528 Kuningan: Ekonomi Melesat 7 Persen Tanpa Tinggalkan Budaya Lokal
- Ramai Flyer Wabup Tuti untuk Bupati Dian, Pengamat: Beneran “Pecah Kongsi”?
Pada Rabu (2/9/2026), Paguyuban KTH Silihwangi Majakuning dengan Masyarakat Peduli Api (MPA) yang beranggotakan 1.027 orang melakukan pelatihan dan pemberian materi terkait Pemadam Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di kawasan TNGC yang menghadirkan pemateri dan pelatih dari UPT Damkar Satpol PP Kabupaten Kuningan dan dari pegiat lingkungan Gema Jabar Hejo.
Agenda pelatihan dan pemberian materi ini digelar dalam rangka meningkatkan kapasitas dan profesionalisme Masyarakat Peduli Api (MPA) dari perwakilan 28 desa penyangga binaan Paguyuban Silihwangi Majakuning, dan sebagai garda terdepan perlindungan karhutlah dan konservasi di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).
Camat Pasawahan, Asep Dudi Riyadi, yang hadir pada apel siaga karhutla di lokasi tersebut memberikan apresiasi tinggi terhadap komitmen warga dan paguyuban yang konsisten menjaga hutan. Ia mengungkapkan, dalam upaya konservasi ini, masyarakat adalah ujung tombak yang sangat vital.
“Masyarakat adalah ujung tombak utama. Pemerintah dan pihak swasta tentu memiliki keterbatasan, sehingga peran kami lebih kepada mendukung dan menopang apa yang telah dilakukan oleh masyarakat. Pelatihan-pelatihan pemadaman dan mitigasi seperti ini harus rutin dilakukan setiap tahun untuk menjaga kelestarian hutan kita,” tegas Asep.
Senada dengan hal tersebut, dari sisi keamanan dan ketertiban, Kapolsek Pasawahan, Iptu Enang Kurnia, menyoroti pentingnya kekompakan antar-instansi. Menurutnya, penanganan bencana alam maupun kejahatan lingkungan tidak bisa dilakukan sendirian.
“Semua unsur, baik masyarakat maupun pemerintahan, termasuk TNI dan Polri, bergerak bersama-sama. Kekompakan yang kolaboratif antara kami semua dengan Masyarakat Peduli Api (MPA) sangat membantu. Jika terjadi titik api, kami bisa merespons dan mengatasinya dengan sangat cepat,” jelas Iptu Enang.
Kesiapsiagaan di lapangan juga didukung penuh oleh jajaran TNI. Danramil Pancalang Kodim 0615/Kuningan, Kapten Inf Sunardi, mengakui bahwa medan di kawasan Gunung Ciremai cukup berat. Namun, hal itu tidak menjadi hambatan bagi personelnya untuk selalu hadir di tengah masyarakat.
“Meski ada keterbatasan jumlah anggota dan medannya berat, kami selalu proaktif bergabung dalam kegiatan MPA. Kami turun bersama warga sejak dini sebelum sebuah kejadian, seperti karhutla atau penebangan liar, meluas. Kami juga aktif melakukan patroli gabungan untuk meminimalisir risiko,” ungkap Kapten Sunardi.
Sementara itu, pergerakan paling masif berada di tingkat akar rumput yang digawangi oleh kelompok masyarakat sipil. Plt Ketua Paguyuban Kelompok Tani Hutan (KTH) Silihwangi Majakuning, H. Nandar Junar Arif, memaparkan bahwa kesadaran warga saat ini sudah sangat tinggi. KTH MPA yang diformalkan sejak 2021 ini fokus pada tiga fungsi utama: perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan.
“Saat ini total anggota kami mencapai 1.076 orang yang tergabung dalam 28 KTH, mengelilingi kawasan Ciremai mulai dari Padabeunghar hingga Kuningan. Setiap kepala desa kini menganjurkan agar anggota KTH otomatis menjadi anggota MPA, sehingga koordinasi pencegahan karhutla jauh lebih masif dan terstruktur,” papar H. Nandar.
Lebih lanjut, Nandar menambahkan, kunci keberhasilan ini adalah ketika masyarakat sudah merasakan manfaat langsung dari kelestarian hutan, seperti ketersediaan air bersih, segarnya udara dan hasil ekonomi dari hutan yang bisa dinikmati.
“Ketika masyarakat sudah merasakan manfaatnya, mereka akan menjaga sumbernya dengan sukarela tanpa perlu disuruh atau dibayar. Bahkan, warga yang dulunya terbiasa berburu satwa atau melakukan illegal logging, kini berhasil kami rangkul dan beralih menjadi kader-kader konservasi yang aktif melestarikan hutan,” katanya.
Pada agenda ini mereka mendapatkan pelatihan penggunaan dan pengenalan alat yang bisa dipakai dalam upaya pemadaman api kebakaran hutan. Mereka juga diberikan materi terkait pentingnya menjaga hutan secara mandiri.
Melalui sinergi kuat antara unsur pemerintah (Camat), aparat keamanan (Kapolsek dan Danramil), serta kekuatan sipil (KTH dan MPA), diharapkan kawasan Gunung Ciremai dapat terus terlindungi dan memberikan manfaat ekologis yang berkelanjutan bagi generasi mendatang. (Nars)



