

KUNINGAN — Para petani sayur di Kabupaten Kuningan menjerit akibat rendahnya harga jual komoditas hortikultura yang tidak sebanding dengan tingginya biaya produksi. Tekanan ekonomi ini diperparah oleh penawaran harga beli di tingkat BUMD yang dinilai tidak berbeda jauh dengan harga di pasar tradisional.
Tio (38), petani asal Desa Taraju, Kecamatan Sindangagung yang saat ini sedang mengolah lahan seluas 40 bata, membeberkan besarnya modal operasional yang harus dikeluarkan. Untuk mengolah lahan seluas 25 bata saja, ia harus merogoh kocek untuk biaya tenaga cangkul sebesar Rp110.000 per hari selama 7 hari berturut-turut.
- Rutin Gelar Pembinaan, PPL Sindangagung Terus Dorong Produktivitas Kelompok Tani di Taraju
- Laskar Gerindra Jabar 13 Bergerak: Dari Pendataan Kebutuhan Warga Hingga Penyaluran Bantuan Real
- Tak Ditemukan Narkoba: Razia Mendadak Lapas Kuningan, Petugas Gabungan Sita Barang Terlarang
- Harga Panen Anjlok dan Modal Membengkak, Petani Sayur di Kuningan Keluhkan Harga Beli
- Awas Penyakit Hati! Ini Bahaya Sifat Hasud dan Cara Mengatasinya Menurut Kitab Tanbihul Ghafilin
“Biaya cangkul itu belum memperhitung kebutuhan sekitar 500 turus bambu seharga Rp1.500 per buah, mahalnya harga pupuk, serta sulitnya pasokan air untuk menyiram tanaman saat musim kemarau,” ujar Tio.
Padahal, dari lahan seluas 25 bata tersebut, potensi hasil panennya terbilang cukup produktif, yakni mencapai 3,5 ton per masa panen atau sekitar 2 kuintal per hari. Namun, potensi hasil panen yang berlimpah ini tidak sejalan dengan pendapatan bersih yang diterima akibat tergerus tingginya biaya input pertanian.
Kondisi tersebut makin diperparah oleh harga jual komoditas yang terus meluncur turun. Untuk cabai rawit (jablay), harga normal di tingkat petani sebenarnya berada di kisaran Rp60.000–Rp65.000 per kg.
Namun, Ia menyebutkan, Rumah Sayur PDAU Kuningan justru menawar di angka Rp50.000–Rp55.000 per kg. Petani mengeluhkan penawaran BUMD tersebut karena tidak memberikan margin yang lebih baik bagi produsen.
Nasib serupa menimpa komoditas tomat dan timun. Saat ini harga tomat di tingkat petani tertahan di angka Rp3.000 per kg, sementara timun hanya dihargai Rp2.000 per kg di Pasar Tradisional Jagasatru, Cirebon.
Di Pasar Kepuh, meski tingkat penjualan timun mampu menembus hingga 2 ton per hari, harga jualnya hanya bertahan di kisaran Rp3.000–Rp4.000 per kg—turun drastis jika dibandingkan harga tertinggi yang pernah menyentuh Rp15.000 per kg saat viral beberapa waktu lalu.
Ia pun mengeluhkan peran Penyuluh Pertanian Lapangan yang belum banyak membantu petani dalam upaya meningkatkan produksi hasil panen mereka Para petani menilai para petugas PPL ini bahkan lebih mementingkan lahan olahan mereka sendiri dan terkesan menyembunyikan keilmuan mereka dalam bertani (NARS)



