

KUNINGAN – Rencana eksplorasi Geothermal di Gunung Ciremai kembali memanas. Ratusan mahasiswa yang menggelar aksi unjuk rasa di Kuningan, Senin (5/10/2026), menuntut kejelasan dan ketegasan sikap dari pemerintah.
Saat berdialog dengan massa, Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar, langsung melakukan percakapan melalui sambungan telepon kepada Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat.
Melalui sambungan telepon yang diperdengarkan menggunakan pengeras suara, massa aksi langsung menuntut tanggapan dari Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman.
- Didesak Mahasiswa soal Tolak Geothermal Ciremai, Sekda Jabar Minta Waktu untuk Cek ke Kementerian ESDM
- Pemkab Kuningan Tegaskan Belum Terima Surat Resmi Lelang Geothermal Gunung Ciremai
- Kericuhan Warnai Aksi Tolak Geothermal, Demonstran Terobos Barikade Pendopo Bupati Kuningan
- Bahas RAPBD 2027, Fraksi Amanat Restorasi Dorong Roadmap Fiskal dan Transparansi Berbasis Dashboard
- Proyek Tugu Bola Dunia Kuningan Tuntas, PUTR Sebut Pembangunan Patung Kuda Tunggu APBD Perubahan
Merespons desakan mahasiswa, Sekda Provinsi Jawa Barat mengapresiasi kepedulian mahasiswa terhadap ekosistem Gunung Ciremai. Namun, ia menyatakan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat sendiri masih menunggu pembaruan informasi dari Kementerian ESDM.
“Kami sendiri masih nunggu update dari Kementerian ESDM. Jadi harus dicek ricek dulu seperti apa progresnya. Dan nanti konsekuensinya seperti apa,” ungkap Sekda Jabar, Herman Suryatman melalui sambungan telepon.
Sekda Herman menyampaikan perlunya konfirmasi ke Jakarta mengenai tahapan proyek, apakah masih dalam rencana, eksplorasi, atau eksploitasi, serta pihak mana yang akan mengeksekusi proyek tersebut.
Di tengah riuhnya sorakan “Tolak, Pak, tolak!” dari massa aksi, Sekda Jabar meminta waktu untuk mengumpulkan informasi yang lebih komprehensif. “Jangan sampai kita berkomentar, menyampaikan sesuatu yang kita belum pahami. Makanya berikan kami waktu untuk mendalami lebih jauh,” pintanya.
Lebih lanjut, Sekda Jabar menyarankan mahasiswa untuk meninjau langsung instalasi Geothermal yang sudah beroperasi, seperti di Garut, agar mendapatkan gambaran utuh mengenai dampaknya, mengingat Geothermal sering diklasifikasikan sebagai energi hijau (green energy).
Namun, saran tersebut langsung ditolak mentah-mentah oleh perwakilan mahasiswa. Mereka menegaskan bahwa sikap warga Kuningan dan sekitarnya (Ciayumajakuning) sudah bulat menolak pembangunan Geothermal di Gunung Ciremai sejak tahun 2013, tanpa syarat dan tanpa kompromi.
“Sikap Geothermal: tolak tanpa syarat tanpa kompromi, Pak! Sampaikan ke Kementerian ESDM kalau dirasa Bapak belum mampu,” tegas salah satu mahasiswa.
Menanggapi ketegasan tersebut, Sekda Jabar berjanji akan meneruskan aspirasi warga ke pemerintah pusat. “Boleh, boleh, nanti kami sampaikan. Itu hak teman-teman untuk menyampaikan pendapat. Kalau aspirasi kami sampaikan,” tutup Sekda, sembari berjanji untuk bersilaturahmi langsung dengan warga Kuningan di masa mendatang. (NARS)



