

KUNINGAN — Isu penunjukan pimpinan baru DPC Partai Gerindra Kabupaten Kuningan mendadak memicu riak politik di ranah lokal. Nama Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani, yang kini santer dikabarkan bakal menduduki posisi pimpinan tertinggi partai pimpinan Prabowo Subianto di daerah tersebut, dinilai menjadi “efek gentar” baru yang bikin konstelasi politik lokal bergejolak.
Bukan hanya di internal partai, potensi naiknya Tuti Andriani sebagai Nahkoda DPC Gerindra Kuningan ditenggarai mulai membuat kawan maupun lawan politik di luar arena merasa tidak nyaman.Pengamat Kebijakan Publik Kabupaten Kuningan, Soejarwo, menilai dinamika ini sebagai sinyal pergeseran peta kekuatan yang sangat penting menjelang pertarungan politik mendatang.
- Pengamat Sebut Sosok Tuti Andriani Bikin ‘Panas Dingin’ Peta Politik Kuningan, Rival Politik Ada yang Gerah?
- Warga Wanaasih Terdampak Bendungan Kuningan Desak Percepatan Pembebasan Lahan “Ganti Untung”
- Tolak Eksplorasi Geothermal Gunung Ciremai, PKB Kuningan: Cegah Kemudaratan Lebih Utama
- Gerbong Baru DPC PKB Kuningan, Eks Pejabat Pemkab hingga Mantan Ketua Parpol Hijrah Demi Target Menang Pemilu 2029
- DPC PKB Kuningan Kukuhkan Pengurus Baru Periode 2026–2031, Pasang Target Minimal 10 Kursi di Pemilu 2029
“Patut diduga keras ada pihak-pihak yang mulai merasa ‘kurang nyaman’ jika DPP Gerindra akhirnya mempercayakan kemudi DPC kepada Ibu Tuti Andriani. Dan potensi rasa ‘terusik’ ini bukan cuma di ranah internal Gerindra, melainkan meluas hingga ke jajaran elite politik di luar partai,” ungkap Soejarwo, memberikan analisisnya, Senin (12/10/2026).
Menurut Soejarwo, variabel Tuti Andriani di tampuk kepemimpinan Gerindra Kuningan bukan sekadar reposisi pengurus biasa. Statusnya saat ini sebagai pejabat eksekutif (K-2) yang dipadukan dengan mesin politik Gerindra akan membentuk modal politik yang luar biasa masif.
Kombinasi tersebut diprediksi bakal mengunci dominasi politik di Kabupaten Kuningan hingga Pesta Demokrasi 2029 mendatang.
“Jika amanah dari DPP Gerindra benar-benar jatuh ke tangan beliau, hampir siapapun bakal memprediksi bahwa pada Pilkada dan Pemilu 2029 di Kabupaten Kuningan, sosok Tuti Andriani akan menjadi figur yang sangat tangguh dan sulit untuk dikalahkan,” jelasnya.
Di tengah panggung politik Kuningan yang mayoritas masih didominasi figur pria, kemunculan Tuti Andriani di pucuk pimpinan partai politik memberikan daya pikat tersendiri bagi pemilih.Gaya kepemimpinan bernuansa maternal touch (sentuhan keibuan) ini dinilai mampu membangkitkan memori kolektif dan nostalgia masyarakat Kuningan terhadap era kepemimpinan mantan Bupati Kuningan, almarhumah Hj. Utje Choeriah Suganda.
“Kehadiran pimpinan perempuan di puncak parpol maupun eksekutif menghadirkan warna yang sangat beda. Ini mengingatkan publik pada sosok almarhumah Hj. Utje saat memimpin Kuningan dulu—sebuah gaya kepemimpinan yang lembut, humanis, dan merangkul. Di tengah dominasi figur pria, karakter ini punya magnet elektoral yang sangat kuat,” papar Soejarwo.
Menanggapi spekulasi liar yang menyebutkan kemungkinan Tuti berpaling ke parpol lain jika tidak mendapat rekomendasi dari DPP Gerindra, Soejarwo dengan tegas menepis kabar burung tersebut. Ia menilai Tuti memiliki kalkulasi dan loyalitas politik yang matang.
“Saya yakin betul, kalaupun Ibu Tuti tidak mendapatkan amanah untuk menahkodai Gerindra Kabupaten Kuningan, tidak bakal semudah itu beliau ‘loncat’ atau pindah ke partai politik manapun. Ada komitmen dan kalkulasi politik yang jauh lebih matang di sana,” pungkas Soejarwo. (NARS)



