

KUNINGAN — Kebakaran lahan seluas kurang lebih tiga hektar melanda kawasan pemukiman warga di RT 09/RW 04 Dusun 2, Desa Walaharcageur, Kecamatan Luragung, Kabupaten Kuningan, pada Rabu (14/10/2026) siang.
Insiden tersebut pertama kali diketahui oleh Kepala Dusun 2 setempat yang kemudian menginformasikannya melalui grup percakapan internal warga. Mengetahui hal itu, perangkat desa bersama unsur Babinsa, anggota Polsek Luragung, Koramil Luragung, serta warga sekitar bahu-membahu mencoba memadamkan api secara mandiri.
- Kerap Jadi Sasaran Pinjol Ilegal dan Judi Online, 300 PMI Indramayu Dibekali Literasi Keuangan
- Polres Kuningan Gelar Lomba Satkamling 2026, Perkuat Keamanan Swakarsa Berbasis Masyarakat
- Selama 1,5 Jam Petugas Padamkan Kebakaran Lahan 3 Hektar di Walaharcageur
- Sat Lantas Polres Kuningan Gelar Program “Polisi Sahabat Pelajar” di SMPN 1 Kadugede, Sosialisasi Tertib Lalu Lintas hingga Anti-Bullying
- Kades Harus Peduli terhadap Kebakaran
Namun, embusan angin dan area terbakar yang luas serta lokasinya yang berdekatan dengan permukiman membuat kobaran api sulit dikendalikan.
Melihat potensi bahaya yang mengancam rumah warga, personel Polsek Luragung langsung menghubungi layanan call center UPT Damkar Satpol PP Kabupaten Kuningan untuk meminta bantuan darurat.
Kepala UPT Damkar Satpol PP Kabupaten Kuningan, Andri Arga Kusumah, membenarkan kejadian tersebut dan mengonfirmasi bahwa penanganan langsung dilakukan begitu laporan diterima pada pukul 13.50 WIB.
“Setelah menerima laporan, kami langsung menerjunkan enam personel piket Regu 3 dengan mengendarai satu unit kendaraan dinas pancar menuju lokasi kejadian pada pukul 13.58 WIB. Tim tiba di lokasi sekitar pukul 14.20 WIB dan langsung melakukan lokalisasi serta pemadaman api,” ujar Andri.
Proses pemadaman berlangsung sekitar 1,5 jam dengan melibatkan sinergi lintas unsur, termasuk lima personel Polsek Luragung, tiga anggota Koramil Luragung, Satpol PP BKO Kecamatan Luragung, perangkat desa, hingga warga setempat. Api berhasil dipadamkan sepenuhnya pada pukul 15.30 WIB.Andri mengungkapkan, petugas di lapangan sempat menghadapi sejumlah tantangan dalam proses pemadaman karena kondisi geografis dan sebaran titik api.
“Hambatan utama di lapangan adalah luasnya area yang terbakar serta munculnya beberapa titik api secara bersamaan. Oleh karena itu, anggota kami membagi strategi dengan memadukan penyemprotan air menggunakan armada pancar dan pemadaman manual di titik-titik yang sulit dijangkau kendaraan,” jelas Andri.
“Kami mengimbau warga untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, seperti membakar sampah sembarangan atau membuka lahan dengan cara dibakar.” Imbuhnya lagi. (NARS)



