
KUNINGAN — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Lantas, berapa luas areal yang terdampak akibat insiden ini?Kepala Balai TN Gunung Ciremai (BTNGC), Toni Anwar, mengungkapkan bahwa berdasarkan perkiraan awal, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 50 hingga 60 hektar.
Hingga saat ini, tim gabungan masih berfokus penuh pada upaya pemadaman di lapangan. Namun, proses pemadaman menghadapi sejumlah kendala berat, seperti medan yang terjal, akses lokasi yang sulit dijangkau, serta keterbatasan ketersediaan air di sekitar titik api.
- Medan Ekstrem dan Titik Api Bandel: BPBD Kuningan Kerahkan Personel Jalan Kaki Jangkau Lokasi Karhutla Taman Nasional
- Berapa Luasan Terdampak Kebakaran Gunung Ciremai? BTNGC Ungkap Begini
- Berjibaku Bantu Padamkan Kebakaran Gunung Ciremai, Ini Strategi yang Dikerjakan MPA Paguyuban Silihwangi Majakuning
- Memperlakukan Alam Seperti Diri Sendiri, Pesan Ekologis Gubernur KDM Pasca Melihat Lokasi Kebakaran Gunung Ciremai
- Kebakaran Hutan di Lereng Gunung Ciremai Meluas, Pemkab Kuningan Gandeng Pemprov Jabar Kerahkan Helikopter Water Bombing
“Antisipasi kami masih fokus pada pemadaman. Kendala utama di lapangan adalah kondisi medan, akses menuju titik api, serta ketersediaan air,” ujar Toni Anwar saat dikonfirmasi, Kamis (22/10) malam.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, pihak Balai TNGC terus memperkuat koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) agar penanganan kebakaran dapat berjalan lebih efektif dan terpadu.
Toni menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas besarnya dukungan serta sinergi dari berbagai pihak dalam menanggulangi insiden ini. Pemadaman melibatkan personel gabungan dari TNI, Polri, masyarakat yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Api (MPA) dan Masyarakat Mitra Polhut (MMP), mitra wisata, Paguyuban Siliwangi, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten, BPBD, serta para relawan.
“Alhamdulillah, kami mendapatkan banyak dukungan dari berbagai pihak… Kami memohon dukungan dari seluruh lapisan masyarakat agar upaya pemadaman ini dapat berjalan lancar dan api segera teratasi,” tambahnya.
Mengenai dampak terhadap keanekaragaman hayati, Toni menjelaskan bahwa sejauh ini belum ada laporan mengenai satwa liar yang terdampak secara signifikan. Mayoritas areal yang terbakar merupakan kawasan terbuka berupa semak, savana, serta sebagian kecil tegakan pohon pinus.
Selain itu, lokasi kebakaran sebagian besar bukan merupakan habitat utama satwa prioritas. Karakteristik lahan terbuka juga memudahkan satwa liar untuk menyelamatkan diri dan menghindari kobaran api. (NARS)
