
KUNINGAN — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerjang kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) sejak Rabu malam (21/10/2026) terus meluas. Hingga Kamis (22/10/2026) siang, tim gabungan beserta para relawan masih terus berjibaku di lapangan untuk mengendalikan kobaran api yang merembet ke arah barat.
Peristiwa kebakaran ini pertama kali terdeteksi pada Rabu pukul 20.44 WIB melalui hasil patroli udara SPTN Wilayah I Kuningan TNGC. Titik api awal berada di koordinat -6.847357, 108.432047, persisnya di kawasan Grid 15 M Resor Pasawahan, SPTN Wilayah I Kuningan.
- Kebakaran Gunung Ciremai Meluas ke Gunung Dulang, Angin Kencang dan Medan Terjal Hambat Pemadaman
- Geger Kebakaran di SPBE Cigugur Kuningan, Ini Kronologinya
- DAK Fisik Kuningan Nihil di 2027, Sohibul Imam: Penetapan Anggaran Merupakan Kewenangan Pemerintah Pusat
- Ketimpangan Literasi versus Inklusi Keuangan Picu 40 Aduan Setiap Hari, OJK Cirebon Wanti-Wanti Bahaya Penyalahgunaan KTP
- Sambut HUT ke-62 Partai Golkar, Sejumlah Kader Gelar Ziarah, Ini Daftar Lokasi Makam yang Dikunjungi
Namun, menginjak Kamis siang, pergerakan api dilaporkan semakin meluas dan mengancam areal yang lebih tinggi di dalam kawasan konservasi tersebut.
Sumber Kuningan Religi, Relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) Paguyuban Silihwangi Majakuning, Asep Susan Sonjaya, membeberkan situasi terkini langsung dari lokasi kejadian. Ia mengungkapkan bahwa kobaran api kini mengarah ke sisi barat hingga menembus kawasan Gunung Dulang.
“Api meluas ke arah barat dan saat ini sudah mencapai titik Gunung Dulang di kawasan TNGC. Petugas gabungan dan relawan di lapangan masih terus berupaya keras memutus pergerakan api,” ujar Asep Susan Sonjaya saat dikonfirmasi Kamis (22/10/2026).
Asep menjelaskan, upaya pemadaman menghadapi kendala hebat akibat faktor cuaca ekstrem dan topografi yang berat. Angin kencang yang bertiup di sekitar lereng Gunung Ciremai membuat lidah api cepat menyebar dan sulit diprediksi.
“Kondisi di lapangan cukup berat. Angin bertiup sangat kencang, suhu udara terasa panas, ditambah medan kawasan yang terjal. Kendala utama kami adalah lokasi titik api yang sangat jauh dari sumber air, sehingga pemadaman terpaksa mengandalkan teknik manual dan sekat bakar,” tambah Asep.
Operasi pemadaman masif ini menggerakkan kekuatan penuh dari berbagai unsur. Personel lintas instansi yang dikerahkan meliputi BPBD Kabupaten Kuningan, Tim Brigdalkarhutla TNGC, Balai Brigdalkarhutla Jabalnusra, Manggala Agni Kementerian Hutan, MPA Paguyuban Silihwangi Majakuning, mitra wisata TNGC, hingga warga lokal di sekitar kawasan hutan.
Menyikapi rentetan insiden karhutla yang melanda kawasan konservasi sepanjang bulan Oktober ini, pihak pengelola TNGC mengimbau keras seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan penuh.
Masyarakat diminta tidak sekali-kali melakukan aktivitas pembakaran atau membuat perapian di dalam maupun di area perbatasan hutan.Hingga berita ini diturunkan, seluruh personil gabungan masih bersiaga dan terus berjuang melokalisasi kobaran api agar tidak merembet lebih jauh ke kawasan inti TNGC. (NARS)
