KUNINGAN – Puluhan petani di Desa Walaharcageur, Kecamatan Luragung, Kuningan, diajak beralih ke pupuk organik cair buatan sendiri sebagai solusi atas kondisi tanah pertanian yang jenuh akibat penggunaan pupuk kimia. Pelatihan ini difasilitasi oleh Bestina Nyakola, sebuah komunitas sosial nirlaba yang bergerak di bidang pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung pada titik terakhir pelatihan bulan ini menghadirkan pegiat pertanian organik, Sulistio IPAC, sebagai mentor. Dalam pelatihan yang digelar Selasa (11/3/2025), Tio menjelaskan bahwa ketergantungan petani pada pupuk kimia tidak hanya berdampak buruk bagi kesuburan tanah, tetapi juga semakin mahal dan sulit didapatkan.
- Punya Potensi Puluhan Ribu Anggota, Pengurus IKA STEMGA Kuningan Resmi Dilantik di Pendopo
- Akui Fasilitas Sekolah Belum Merata, Bupati Kuningan Sampaikan Pesan Ini di Hardiknas 2026
- Akhirnya Terjawab, Kisruh Dana Taspen PPPK Guru Kuningan Telah Diselesaikan Disdikbud
- Mayday 2026: KSPSI Kuningan Desak Buruh Berani Lapor Praktik Upah di Bawah Standar
- Refleksi Milad Ke-94 Pemuda Muhammadiyah untuk indonesia jaya
“Sudah saatnya kita beralih ke pupuk organik. Selain lebih ramah lingkungan, pupuk organik cair buatan sendiri ini mudah dibuat dengan bahan-bahan sederhana seperti air hujan, air kelapa, gula merah, ragi, daun pepaya, terasi, garam kasar, dan kapur. Selain meningkatkan kesuburan tanah, pupuk ini juga bisa berfungsi sebagai insektisida alami dan mempercepat masa panen,” jelas Sulistio IPAC.
Pelatihan ini disambut antusias oleh para petani yang langsung mempraktikkan pembuatan pupuk organik cair. Mereka berharap metode ini dapat menjadi solusi atas permasalahan pertanian yang mereka hadapi selama ini.


Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Hj. Tina Wiryawati, yang juga pendiri Yayasan Eka Nusa Satia, turut mendukung penuh upaya kemandirian pertanian ini. Menurutnya, peraturan daerah terkait pertanian organik sudah ada di Jawa Barat, dan pelatihan seperti ini merupakan langkah nyata dalam mengimplementasikannya di tingkat petani.
“Kita ingin petani lebih mandiri dan tidak lagi bergantung pada pupuk kimia. Bestina Nyakola hadir untuk memberikan pelatihan seperti ini agar masyarakat, khususnya di Dapil Jabar 13 (Kuningan, Ciamis, Pangandaran, dan Banjar), bisa lebih berdaya secara ekonomi dan pertanian,” ujar Hj. Tina Wiryawati.
Selain di bidang pertanian, Bestina Nyakola juga aktif dalam berbagai pelatihan lainnya, termasuk bidang pariwisata dan ekonomi kreatif, yang menyasar masyarakat kalangan bawah agar lebih mandiri.
Dengan adanya pelatihan pembuatan pupuk organik ini, diharapkan para petani di Kecamatan Luragung dan sekitarnya dapat beralih ke metode pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan hasil panen mereka tanpa ketergantungan pada pupuk kimia yang semakin mahal. (NARS)
























