

KHAZANAH — Fenomena mengagungkan figures publik atau tokoh masyarakat tanpa melihat rekam jejak kejujuran dan integritas dinilai dapat merusak tatanan moral sosial. Sanjungan serta pemberian gelar kehormatan kepada individu yang menampakkan sifat-sifat kemunafikan tidak hanya mencederai nilai kebenaran, tetapi juga berisiko mengundang dampak buruk bagi tatanan kemasyarakatan.
Peringatan tersebut mengemuka dalam khutbah Jumat yang menyoroti bahaya terselubung dari kebiasaan masyarakat yang mudah terbuai oleh pencitraan serta janji manis figur publik
Menghormati Tokoh Tanpa Integritas Berisiko Menyesatkan Publik
Dalam uraiannya, khatib mengingatkan pesan Rasulullah SAW mengenai larangan memberikan gelar kehormatan atau sanjungan setinggi langit kepada orang-orang yang memiliki sifat munafik. Ketika seseorang yang secara nyata kerap berdusta, ingkar janji, atau mengkhianati amanah justru diberi kedudukan terhormat, hal itu berpotensi menyesatkan masyarakat luas.
“Apabila figur yang tampak lurus di luar namun busuk batinnya terus dipuji dan dijadikan panutan, masyarakat akan tertipu serta memberikan kepercayaan yang salah. Pada akhirnya, kebohongan dan pengkhianatanlah yang mendapatkan panggung kehormatan,” ungkap khatib dalam penyampaiannya.
Khatib memaparkan tiga alasan utama mengapa tindakan memuji orang munafik sangat berbahaya:
1. Menyelisihi Nilai Keabadian dan Keadilan:
Dalam ajaran Islam, kemunafikan merupakan salah satu dosa besar yang menempatkan pelakunya pada tingkatan terendah. Menyanjung pihak yang secara moral cacat berarti mengabaikan standar keadilan.
2. Krisis Keteladanan dan Standar Sosial:
Sanjungan yang tidak berdasar akan mengaburkan standar nilai di tengah masyarakat. Hal ini menciptakan kondisi di mana kejujuran dianggap mengganggu, sementara kepalsuan dan sanjungan bermuka dua justru mendapatkan penghargaan.
3. Pemberian Panggung bagi Pengkhianatan Amanah:
Ketika kepopuleran dan jabatan dijadikan satu-satunya ukuran kehormatan, masyarakat cenderung menutup mata terhadap perilaku tidak jujur dan janji-janji palsu.
Redefinisikan Ukuran Kemuliaan: Utamakan Integritas dan Ketaatan
Lebih lanjut, disampaikan bahwa ukuran kemuliaan sejati seseorang tidak terletak pada tingginya jabatan, besarnya kekayaan, maupun tingginya tingkat popularitas. Mengutip doktrin kitab suci, indikator utama kehormatan seseorang adalah ketakwaan, kejujuran, serta kepedulian terhadap kemaslahatan umum.
Orang kaya atau pejabat publik memang dapat menjadi sosok yang mulia apabila menjalankan perannya secara adil, jujur, dermawan, dan tidak menzalimi sesama. Sebaliknya, kekayaan dan jabatan yang memicu kesombongan serta penyalahgunaan kekuasaan justru akan meruntuhkan kemuliaan tersebut.
Imbauan untuk Bersikap Kritis dan Introspeksi Diri
Kendati masyarakat diminta untuk tegas tidak mengagungkan figur bermuka dua, khatib menggarisbawahi pentingnya menjaga adab dengan tidak menghakimi atau mengklaim status kemunafikan seseorang secara serampangan.
Sikap yang ditekankan adalah kelurusan moral: tidak menjadikan jabatan, pengaruh, atau popularitas sebagai alasan untuk menyanjung perilaku yang melanggar nilai-nilai kejujuran.
Di akhir perenungan, masyarakat diajak untuk senantiasa melakukan introspeksi diri agar terhindar dari indikator kemunafikan—seperti culas dalam berucap, merusak janji, dan mengkhianati kepercayaan—sebagaimana para sahabat terdahulu yang senantiasa mawas diri terhadap kualitas keimanan mereka. (NARS)



