Ekonomi Bisnis Kuningan MBG Pemerintahan Pertanian

Momen Lebaran, Kenapa Harga Komoditas Pertanian Tak Ikut “Marema”? Ini Jawaban Tokoh Kuningan

KUNINGAN – Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran biasanya identik dengan musim marema—momen panen keuntungan berkat melonjaknya daya beli masyarakat. Namun, anomali justru melanda harga komoditas pertanian di pasar tradisional Kabupaten Kuningan tahun ini.

Alih-alih meroket tajam, harga kebutuhan pokok, khususnya komoditas pertanian, malah terpantau lesu dan cenderung anjlok.

Lantas, di momen Lebaran kenapa harga komoditas pertanian tak ikut marema? Tokoh Pertanian Kabupaten Kuningan, H. Udin Kusnedi, mengungkapkan akar permasalahan dari fenomena tak biasa ini.

Menurutnya, dinamika harga yang terjadi di lapangan saat ini memberikan bukti nyata betapa besarnya pengaruh program pemerintah terhadap stabilitas ekonomi lokal. Usut punya usut, anjloknya harga panen ini menurutnya merupakan imbas langsung dari jeda libur program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Momen Lebaran ini sangat ditunggu oleh pedagang dan petani untuk mendulang untung. Tapi sekarang kita melihat, kenaikan harga tidak signifikan, bahkan cenderung menurun. Kenapa? Karena saat program MBG libur, harga otomatis jatuh,” beber H. Udin memberikan analisisnya.

Punya Potensi Puluhan Ribu Anggota, Pengurus IKA STEMGA Kuningan Resmi Dilantik di Pendopo

Udin menjelaskan, fenomena ini tidak lepas dari hukum dasar suplai dan permintaan (demand). Selama masa libur Lebaran, aktivitas dapur umum MBG berhenti beroperasi. Alhasil, serapan hasil bumi di pasar murni hanya bergantung pada konsumsi masyarakat biasa, tanpa adanya permintaan masif berskala besar yang biasa dicanangkan oleh program Presiden tersebut.

Gairah Pasar Akan Segera Pulih

Meski musim marema tahun ini terasa berbeda, H. Udin meminta para petani dan pelaku UMKM untuk tidak patah semangat. Ia meyakini bahwa lesunya harga ini hanya bersifat sementara. Begitu masa libur usai dan program MBG kembali beroperasi, gairah pasar dipastikan akan langsung pulih secara instan.

Tingkat penyerapan hasil bumi oleh pemerintah melalui dapur MBG dinilai sangat terukur dan berkelanjutan setiap harinya. Hal ini diyakini mampu mencegah fluktuasi harga yang ekstrem di kemudian hari.

“Nanti setelah MBG berjalan lagi, saya pastikan harga akan kembali stabil dan standar. Tidak akan ada lagi cerita harga terjun bebas karena barangnya terserap terus. Makanya saya mengajak seluruh pelaku usaha dan petani, ayo terus genjot produksi! Jangan khawatir barang menumpuk, kebutuhannya pasti banyak,” jelasnya.

Akui Fasilitas Sekolah Belum Merata, Bupati Kuningan Sampaikan Pesan Ini di Hardiknas 2026

Sebagai tokoh pertanian, H. Udin tidak menampik bahwa faktor alam dan cuaca tetap memegang peranan penting dalam menentukan kesuburan tanah dan kualitas hasil panen.

Kendati demikian, ia menyebutkan jaminan kepastian pasar dari program MBG kini telah menjadi benteng pelindung utama. Skema serapan yang jelas dari MBG terbukti efektif menyelamatkan para petani lokal dari bayang-bayang kerugian akibat permainan harga. (Nars)

× Advertisement
× Advertisement