

KUNINGAN – Kabar burung mengenai rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) per 1 April 2026 sukses memicu fenomena panic buying di Kabupaten Kuningan. Pada Selasa (31/3/2026) malam, antrean panjang kendaraan tampak mengular di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) menyusul beredarnya isu harga BBM naik ini.
- Bahas RAPBD 2027, Fraksi Amanat Restorasi Dorong Roadmap Fiskal dan Transparansi Berbasis Dashboard
- Proyek Tugu Bola Dunia Kuningan Tuntas, PUTR Sebut Pembangunan Patung Kuda Tunggu APBD Perubahan
- Kritisi RAPBD 2027, Fraksi PDIP Minta Pemkab Kuningan Prioritaskan Alam dan Budaya Miyuni Alam
- Gerindra Kuningan Soroti Defisit Infrastruktur Pertanian, Tuntut Keadilan APBD 2027
- Kritik Keras RAPBD 2027, Golkar Kuningan Soroti Belanja Pegawai Tembus Rp 1,3 Triliun, Anggaran Damkar Miris Hanya Rp 39 Juta
Kepadatan antrean pembeli BBM ini terpantau jelas di beberapa titik strategis, di antaranya SPBU Cijoho, SPBU Ancaran, dan SPBU Kertawangunan. Mayoritas pengendara mengaku berbondong-bondong memadati pompa pengisian setelah menerima pesan berantai yang menyebutkan akan ada lonjakan harga bahan bakar pada esok hari.
Iwan, warga Ciporang yang ditemui di lokasi, mengatakan dirinya mendapat informasi kenaikan harga tersebut dari sejumlah grup WhatsApp. Tidak ingin mengambil risiko keluar uang lebih banyak, ia rela ikut antre demi mengisi penuh tangki sepeda motornya.
“Ramai di grup WA katanya besok harga BBM bakal naik. Makanya, mumpung masih harga sekarang, saya pilih isi full tank hari ini saja buat jaga-jaga,” ujar Iwan di sela antrean.
Kepanikan warga ini rupanya mengalahkan jaminan yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah. Sebenarnya, pihak Istana dan Pertamina telah menyebarkan informasi resmi bahwa tidak akan ada penyesuaian harga BBM subsidi maupun non-subsidi pada April 2026.
Namun, rasa skeptis masih menghinggapi sebagian masyarakat. Ade, warga Garawangi, mengaku sudah membaca pengumuman resmi pemerintah tersebut. Akan tetapi, ia tetap memilih ikut antre karena khawatir kebijakan bisa berubah sewaktu-waktu.
“Sudah tahu sih ada broadcast dari pemerintah kalau Pertamina tidak akan menyesuaikan harga dulu. Tapi tetap saja khawatir infonya tidak sesuai. Kalau ternyata besok beneran naik harganya, bagaimana?” ungkap Ade.
Sebagai informasi, gelombang kepanikan ini disinyalir tidak lepas dari sentimen global yang tengah memanas. Isu kenaikan harga BBM di Tanah Air mencuat seiring dengan meningkatnya eskalasi konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah.
Situasi geopolitik tersebut memunculkan spekulasi liar di tengah masyarakat terkait ancaman kelangkaan stok dan melonjaknya harga minyak mentah dunia. (Nars)



