

KUNINGAN – Keresahan peternak budidaya air tawar terkait mahalnya biaya pelet komersial kini mendapat titik terang melalui inovasi pakan ikan murah berbahan dasar maggot.
Solusi ini dibawa langsung oleh tim Dosen Pulang Kampung atau Dospulkam IPB University ke Desa Cirea, Kecamatan Mandirancan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, untuk membantu menekan biaya operasional pembudidaya setempat.
- Solusi Pakan Ikan Murah, Dosen IPB Olah Maggot di Desa Cirea Kuningan
- Pandangan Satria Rizky Utama terhadap Polemik Penggantian Tugu Bola Dunia Menjadi Patung Kuda
- Kritik Pembongkaran Tugu Bola Dunia Jadi Patung Kuda, Nuzul Rachdy: Pemda Cederai Nilai Historis Bupati Terdahulu
- Belajar Integritas dan Hidup Bersahaja dari Sosok Sutami dan Agus Salim
- PHRI Kuningan Sebar Ratusan Paket Makan Siang untuk Warga Lewat Aksi Jumat Berkah
Desa yang berada di kawasan kaki Gunung Ciremai tersebut sejatinya memiliki potensi sumber daya air yang sangat melimpah dan stabil untuk sektor perikanan. Namun, mayoritas warga yang berprofesi sebagai petani dan peternak masih menjalankan sistem budidaya subsisten dengan tingkat produktivitas yang tergolong rendah.
Kendala paling utama yang mereka hadapi adalah harga pakan pabrik yang terus merangkak naik setiap tahun dan memakan lebih dari separuh total pengeluaran produksi.
Merespons persoalan di lapangan, kelompok akademisi yang dipimpin Siti Jahroh bersama lima peneliti lainnya meracik formula pakan baru melalui proses fermentasi. Mereka mencampurkan pelet biasa dengan tepung maggot, larutan probiotik perikanan, serta tambahan cairan manis seperti molase.
Proses biologis ini diklaim mampu membuat pakan menjadi lebih lunak sehingga nutrisinya lebih maksimal diserap oleh usus ikan.
Tepung maggot atau larva lalat tentara hitam dipilih sebagai bahan baku utama karena memiliki kandungan protein sangat tinggi yang menembus angka tiga puluh lima persen. Strategi ini sekaligus memperkenalkan sistem ekonomi sirkular kepada warga desa setempat.
Sampah organik yang biasa mencemari lingkungan kini bisa dimanfaatkan sebagai pakan maggot, yang pada ujungnya mampu memangkas biaya pembelian pakan pabrik secara drastis.
Sebagai langkah pembuktian, tim ahli telah meluncurkan tahap uji coba lapangan dengan menyiapkan empat kolam percontohan pada akhir bulan Juli lalu. Kolam percontohan tersebut digunakan untuk membandingkan secara langsung pertumbuhan ikan yang diberi pakan ekonomis, pakan premium, pakan fermentasi maggot, dan pakan tradisional berupa daun singkong.
Pada kesempatan yang sama, sebanyak empat kilogram benih ikan dilepaskan langsung sebagai subjek penelitian awal.
Rangkaian riset terapan di area percontohan ini tidak hanya dieksekusi oleh para tenaga pengajar, tetapi juga merangkul mahasiswa kampus tersebut. Para mahasiswa yang tengah menjalani masa Kuliah Kerja Nyata Tematik di Desa Cirea dilibatkan untuk memantau indikator keberhasilan dari setiap jenis pakan.
Hasil evaluasi pengujian ini nantinya akan menjadi data dasar sebelum formula pakan diproduksi secara mandiri oleh kelompok pembudidaya.
Kehadiran para akademisi di wilayah pedesaan ini diharapkan memicu perubahan pola pikir dan cara kerja para pembudidaya di sekitar kawasan penyangga kelestarian alam.
Berawal dari kebiasaan ternak yang sekadar untuk bertahan hidup, ekosistem perikanan di wilayah ini ditargetkan segera bertransformasi menjadi sentra produksi yang efisien, mandiri, serta bersahabat dengan keseimbangan alam. (Nars)



