

KUNINGAN – Peringatan Hari Jadi ke-528 Kuningan tahun ini menjadi pembuktian nyata bagi pemerintah daerah dalam memadukan modernisasi dan pelestarian tradisi.
Di bawah kepemimpinan Bupati Dian Rachmat Yanuar, perayaan ini tidak sekadar seremonial tahunan, melainkan wujud syukur atas lonjakan pertumbuhan ekonomi daerah yang kini menembus angka 7,01 persen pada triwulan pertama tahun ini.
- Hari Jadi ke-528 Kuningan: Ekonomi Melesat 7 Persen Tanpa Tinggalkan Budaya Lokal
- Ramai Flyer Wabup Tuti untuk Bupati Dian, Pengamat: Beneran “Pecah Kongsi”?
- Perkuat Ekosistem Bisnis, Homeless Media Ciayumajakuning Jajaki Kolaborasi dengan GEKRAF Cirebon
- Adaptasi Era Konvergensi, Media Homeless Ciayumajakuning Bedah Pemanfaatan AI di Kuningan
- Dari Hidroponik Hingga Ayam Petelur, BUMDes Karya Mandiri Terus Kembangkan Potensi Desa Peusing
Tema Melesat Ngudag Jaman, Ngakar Kuat Purwadaksi yang diusung secara gamblang merepresentasikan arah kebijakan daerah. Pemerintah menargetkan percepatan daya saing serta adopsi teknologi secara masif di berbagai sektor, namun tetap mewajibkan setiap langkah kemajuan tersebut berpijak teguh pada nilai identitas dan kearifan lokal masyarakat setempat.
Transformasi tersebut terbukti lewat laju pertumbuhan ekonomi yang merangkak naik signifikan dari kisaran lima persen pada tahun lalu menuju level tujuh persen awal tahun ini.
Peningkatan ini sejalan dengan perbaikan infrastruktur jalan yang tingkat kemantapannya menyentuh 78,23 persen, serta penyelesaian ratusan unit irigasi untuk menjamin stabilitas ketahanan pangan masyarakat pedesaan.
Langkah pengentasan kemiskinan dan pemenuhan hak dasar warga juga dikebut lewat rehabilitasi ribuan rumah tidak layak huni yang membuahkan penghargaan tingkat nasional dari Kementerian Dalam Negeri.
Pada saat bersamaan, intervensi di sektor kesehatan sukses menekan angka stunting, berbarengan dengan masifnya pembangunan fasilitas pendidikan baru untuk mencetak generasi penerus daerah yang kompeten.
Kemajuan fisik dan ekonomi itu tidak lantas menggerus sektor pariwisata maupun kebudayaan yang justru mendatangkan lebih dari tiga juta kunjungan wisatawan. Bahkan, pemerintah provinsi secara resmi telah menetapkan Kesenian Dogig dan Upacara Adat Pesta Dadung sebagai warisan budaya takbenda, mengukuhkan posisi daerah ini sebagai benteng pertahanan tradisi Sunda.
Kendati berbagai indikator statistik dan deretan penghargaan menunjukkan tren positif, Bupati Dian mengingatkan seluruh jajarannya agar tidak cepat berpuas diri. Ia menekankan bahwa tolok ukur kesuksesan sejati sebuah pembangunan bukan terlihat dari deretan bangunan megah, melainkan dari seberapa merata keadilan dan kesejahteraan yang dirasakan langsung di rumah-rumah warga.
Momentum perayaan tahun ini pada akhirnya diarahkan menjadi titik tolak untuk memperkuat sinergi dan semangat gotong royong seluruh elemen masyarakat. Kolaborasi utuh antara pemerintah, unsur legislatif, pelaku usaha, hingga warga di tingkat desa menjadi kunci utama memastikan daerah ini terus berlari mengejar kemajuan tanpa pernah kehilangan ruh kebudayaannya. (Nars)



