

KUNINGAN — Menghadapi tantangan digitalisasi dan disrupsi teknologi, komunitas Homeless Media Ciayumajakuning menggelar workshop bertajuk “Membangun Ekosistem Bisnis di Era Konvergensi” di Glamping Embun Sangga Langit, Kabupaten Kuningan. Kegiatan ini difokuskan untuk memperkuat kapasitas media lokal dalam mengadopsi kecerdasan buatan (AI) guna efisiensi produksi konten.
Pemateri dalam kegiatan ini, Chandra Iswinarto, menyoroti pentingnya media lokal untuk beradaptasi dengan perubahan perilaku audiens di daerah Ciayumajakuning.
- Pengamat Sebut Sosok Tuti Andriani Bikin ‘Panas Dingin’ Peta Politik Kuningan, Rival Politik Ada yang Gerah?
- Warga Wanaasih Terdampak Bendungan Kuningan Desak Percepatan Pembebasan Lahan “Ganti Untung”
- Tolak Eksplorasi Geothermal Gunung Ciremai, PKB Kuningan: Cegah Kemudaratan Lebih Utama
- Gerbong Baru DPC PKB Kuningan, Eks Pejabat Pemkab hingga Mantan Ketua Parpol Hijrah Demi Target Menang Pemilu 2029
- DPC PKB Kuningan Kukuhkan Pengurus Baru Periode 2026–2031, Pasang Target Minimal 10 Kursi di Pemilu 2029
Menurutnya, media kini dituntut untuk memproduksi ragam format seperti video, podcast, dan foto, serta mendistribusikannya sesuai karakteristik platform.
“Perubahan pola konsumsi informasi membuat media tidak cukup hanya mengandalkan website. Media perlu memahami karakter setiap platform dan menyesuaikan bentuk kontennya dengan audiens,” jelas Chandra.
Sejalan dengan hal tersebut, praktisi digital, Rendy, membagikan wawasan mengenai pemanfaatan tools Google AI dalam ekosistem redaksi. Rendy menjelaskan, kehadiran AI bukan ancaman, melainkan alat bantu untuk mempermudah dan mempercepat pekerjaan media.
Menurut Rendy, AI tidak akan menggantikan peran manusia dalam mencari gagasan atau mengolah nilai berita. Ia juga menepis anggapan bahwa penggunaan AI secara otomatis akan merusak performa konten di mata algoritma mesin pencari atau media sosial.
“AI itu tools untuk membantu pekerjaan. Penggunaannya tidak otomatis membuat performa konten turun di algoritma. Yang penting bagaimana kita menggunakannya secara tepat dan tetap memiliki kontrol terhadap konten,” ujar Rendy.
Melalui pelatihan ini, para pegiat media di wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan didorong untuk lebih adaptif, efisien, dan tetap menjaga muruah jurnalistik di tengah gempuran otomatisasi digital. (Nars)



