

KUNINGAN – Hembusan angin kencang berkecepatan 12,5 hingga 20 kilometer per jam yang bertiup dari arah selatan ke utara, seolah menjadi musuh tak kasat mata bagi tim gabungan di Desa Singkup, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
Di bawah cuaca yang cerah, puluhan petugas gabungan masih harus menelan pekatnya asap demi menjinakkan api yang melahap kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).
- Klarifikasi Sanksi RS Permata, DLH Kuningan: Uang Masuk Negara
- Perjuangan Tanpa Henti Tim Gabungan Padamkan Karhutla Kuningan, Melawan Angin dan Bara di Lereng Ciremai
- Bantah Tak Hormati DPRD, Wabup Kuningan Sebut Kepala SKPD Absen Paripurna karena Kawal “Bupati Saba Lembur”
- Solusi Karir ke Jepang: PT Obos Ryoushin Indonesia Hadir di Kuningan Tawarkan Program Terintegrasi
- Kebakaran di Kawasan Gunung Ciremai Meluas, Tim Gabungan Bertahan Hingga Malam Ini
Lahan yang didominasi oleh tegakan pohon Sonokeling itu telah terbakar sejak Senin (7/9/2026) siang pukul 12.00 WIB. Kepulan asap yang awalnya hanya terlihat di Blok Cileutik, dengan cepat berubah menjadi kobaran api yang menjalar rakus ke Blok Cimaung dan Blok Mangun Tapa.
Di tengah medan yang terjal, tim gabungan yang terdiri dari BPBD Kuningan, Balai TNGC, TNI (termasuk Yonif TP 839/SP), Polri, aparat desa, hingga relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) Paguyuban Silihwangi Ciayumajakuning bersatu padu.
Dengan perlengkapan seadanya, mulai dari pemadaman sistem manual, jet shooter, hingga mesin pompa, mereka terus berjibaku meredam amukan si jago merah. Bahkan, armada mobil gardan ganda (Sukoy) milik TNGC turut dikerahkan untuk menembus kerasnya medan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kuningan, Indra Bayu Permana, yang turut memantau jalannya operasi darurat ini, mengakui beratnya tantangan di lapangan.
“Tim masih terus melakukan penanganan berupa pemadaman, penyekatan jalur api, hingga proses mock up (pendinginan). Namun, hingga Selasa (8/9/2026) pukul 20.00 WIB malam, api terpantau masih menyala dan memiliki potensi tinggi untuk terus menyebar,” ungkap Indra.
Meski insiden ini beruntung tidak menelan korban jiwa, kelelahan mulai membayangi para petugas yang telah berhari-hari menahan hawa panas. Persediaan yang ada mulai menipis di tengah kondisi darurat.
Demi mencegah meluasnya kerusakan ekosistem, tim penanganan di lapangan kini sangat menanti uluran tambahan personel, bantuan peralatan pemadaman Karhutla, serta dukungan suplai logistik yang memadai. (NARS)



