

KUNINGAN – Dalam upaya memperluas peluang karir internasional bagi tenaga kerja lokal, PT Obos Ryoushin Indonesia (LPK SO Obos) hadir di Kabupaten Kuningan. Kehadiran lembaga pelatihan bahasa dan pengirim tenaga magang ini diharapkan mampu menjadi solusi nyata bagi para lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) maupun pencari kerja yang bermimpi meniti karir di Jepang.
Perwakilan PT Obos Ryoushin Indonesia, Hari Candrawiguna, menjelaskan pihaknya membawa sejumlah program unggulan yang dirancang untuk menjawab berbagai kendala yang sering dialami calon tenaga kerja, khususnya terkait persiapan skill dan biaya pendanaan.
- Perkuat Kolaborasi, PHRI Wilayah III Cirebon Gelar Rakorwil di Kuningan
- Isu Geothermal Gunung Ciremai Mencuat Lagi, Ketua Fraksi PDIP Kuningan Sentil Pemda Tak Punya Sikap Jelas
- Ratusan Hektare Hutan Subang Ditanami Kopi Ilegal, Rana Suparman Desak Penyelamatan Gunung Kendeng
- Klarifikasi Sanksi RS Permata, DLH Kuningan: Uang Masuk Negara
- Perjuangan Tanpa Henti Tim Gabungan Padamkan Karhutla Kuningan, Melawan Angin dan Bara di Lereng Ciremai
Salah satu program yang dicanangkan adalah Obos Japan Class. Program ini mensinergikan pihak penyalur tenaga kerja dengan lembaga pendidikan formal setingkat SMK di Kuningan.
“Melalui Obos Japan Class, kami memberikan pembekalan dan pelatihan sejak dini di sekolah. Sehingga, ketika siswa lulus, mereka tidak lagi kebingungan mencari arah. Waktu persiapannya menjadi lebih singkat dan biayanya pun jauh lebih ringan, bahkan gratis” ujar Hari, Selasa (8/9/2026).
Untuk menjawab keluhan masyarakat terkait tingginya biaya pelatihan ke Jepang, PT Obos Ryoushin Indonesia juga menghadirkan Obos Integrated Program. Program ini berkolaborasi dengan sektor industri di dalam negeri untuk menjembatani persoalan finansial para kandidat.
Didampingi Kabid Penempatan Tenaga Kerja dan Informasi Pasar Kerja, Yanto Chrisdianto, Hari mencontohkan, para peserta akan dipekerjakan terlebih dahulu di kawasan industri dalam negeri, seperti di Cikarang, selama satu tahun. Selama masa kontrak tersebut, mereka bisa bekerja sekaligus membiayai hidup dan pelatihan mereka sendiri.
“Pulang kerja, mereka belajar bahasa Jepang seminggu tiga kali. Begitu kontrak satu tahunnya habis, mereka tidak akan menganggur lagi. Mereka sudah punya bekal pengalaman kerja, tabungan, dan kemampuan bahasa untuk langsung kami berangkatkan ke Jepang,” jelas Hari.
Saat ini, di Kuningan pihaknya tengah membina sedikitnya 58 orang peserta. Para peserta ini merupakan hasil rekrutmen dari acara Job Fair yang belum lama ini diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Kuningan. Tidak hanya bahasa, mereka juga dibekali pelatihan teknis, seperti keterampilan pengelasan yang difasilitasi oleh Dinas terkait.
Nantinya, para kandidat ini akan disalurkan ke berbagai sektor esensial di Jepang. Beberapa bidang utama yang ditawarkan meliputi pertanian, industri manufaktur, pengolahan makanan, konstruksi, perawat lansia (caregiver), hingga perawatan kendaraan bermotor atau otomotif (Jidosha Seibi).
Bagi peserta reguler, proses pelatihan biasanya memakan waktu sekitar empat bulan. Jika dinyatakan layak, mereka akan mengikuti tahapan wawancara dengan perusahaan Jepang dan pengurusan Certificate of Eligibility (CoE) yang memakan waktu sekitar empat hingga lima bulan hingga masa pemberangkatan.
“Dalam proses wawancara, perusahaan Jepang biasanya menyediakan penerjemah. Jadi, untuk perkenalan awal diusahakan menggunakan bahasa Jepang, namun untuk sesi tanya jawab detail masih bisa dibantu dengan bahasa Indonesia,” ucap Hari. (Nars)



