
KUNINGAN – Hembusan angin kencang berkecepatan 12,5 hingga 20 kilometer per jam yang bertiup dari arah selatan ke utara, seolah menjadi musuh tak kasat mata bagi tim gabungan di Desa Singkup, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
Di bawah cuaca yang cerah, puluhan petugas gabungan masih harus menelan pekatnya asap demi menjinakkan api yang melahap kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).
- Surut Drastis, Operasional Irigasi Waduk Darma untuk Petani Masih Normal
- Tuntaskan Karhutla Gunung Ciremai, Operasi Modifikasi Cuaca dengan Penyemaian Awan Digencarkan
- Kapolres Kuningan Pimpin Evaluasi Pemadaman di Medan Terjal Gunung Ciremai
- Gubernur KDM Nyatakan Karhutla Ciremai Diprakirakan Padam, Ini Jenis Helikopter yang Digunakan untuk Water Bombing
- Transformasi Inklusi ke Kesejahteraan Finansial: OJK Kawal Akselerasi Pembiayaan Lewat 552 TPAKD
Lahan yang didominasi oleh tegakan pohon Sonokeling itu telah terbakar sejak Senin (7/9/2026) siang pukul 12.00 WIB. Kepulan asap yang awalnya hanya terlihat di Blok Cileutik, dengan cepat berubah menjadi kobaran api yang menjalar rakus ke Blok Cimaung dan Blok Mangun Tapa.
Di tengah medan yang terjal, tim gabungan yang terdiri dari BPBD Kuningan, Balai TNGC, TNI (termasuk Yonif TP 839/SP), Polri, aparat desa, hingga relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) Paguyuban Silihwangi Ciayumajakuning bersatu padu.
Dengan perlengkapan seadanya, mulai dari pemadaman sistem manual, jet shooter, hingga mesin pompa, mereka terus berjibaku meredam amukan si jago merah. Bahkan, armada mobil gardan ganda (Sukoy) milik TNGC turut dikerahkan untuk menembus kerasnya medan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kuningan, Indra Bayu Permana, yang turut memantau jalannya operasi darurat ini, mengakui beratnya tantangan di lapangan.
“Tim masih terus melakukan penanganan berupa pemadaman, penyekatan jalur api, hingga proses mock up (pendinginan). Namun, hingga Selasa (8/9/2026) pukul 20.00 WIB malam, api terpantau masih menyala dan memiliki potensi tinggi untuk terus menyebar,” ungkap Indra.
Meski insiden ini beruntung tidak menelan korban jiwa, kelelahan mulai membayangi para petugas yang telah berhari-hari menahan hawa panas. Persediaan yang ada mulai menipis di tengah kondisi darurat.
Demi mencegah meluasnya kerusakan ekosistem, tim penanganan di lapangan kini sangat menanti uluran tambahan personel, bantuan peralatan pemadaman Karhutla, serta dukungan suplai logistik yang memadai. (NARS)
