
KUNINGAN — Upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) kini difokuskan pada percepatan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah penyemaian awan ini ditempuh sebagai strategi krusial untuk menuntaskan pemadaman titik api di medan ekstrem yang sulit dijangkau oleh personel darat.
Peristiwa kebakaran hutan di lereng atap Jawa Barat tersebut sebelumnya mulai terdeteksi sejak pertengahan pekan. Kobaran api dengan cepat menjalar dan meluas di sejumlah titik rawan, seperti kawasan Pasawahan, Blok Batu Arca, hingga merembet ke wilayah perbatasan Majalengka.
- 4 DPC Gerindra Konsolidasi di Kuningan, Amir Mahpud Tekankan Loyalitas dan Target Pemenangan
- Karhutla Gunung Ciremai Dinyatakan Padam, Pos Operasi Lapangan Resmi Ditutup
- Surut Drastis, Operasional Irigasi Waduk Darma untuk Petani Masih Normal
- Tuntaskan Karhutla Gunung Ciremai, Operasi Modifikasi Cuaca dengan Penyemaian Awan Digencarkan
- Kapolres Kuningan Pimpin Evaluasi Pemadaman di Medan Terjal Gunung Ciremai
Medan yang curam serta angin kencang sempat menyulitkan ribuan personel gabungan yang diterjunkan untuk membuat sekat bakar di jalur darat.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan bahwa pemerintah bergerak cepat memicu timbulnya hujan buatan di atas area terdampak guna memadamkan sisa-sisa titik api. Pernyataan tersebut disampaikannya melalui unggahan di akun media sosial resminya saat meninjau langsung kesiapan armada dan logistik penaburan garam di pangkalan udara.
“Setelah ini pesawat akan segera meluncur untuk menaburkan garam dalam rangka modifikasi cuaca. Harapannya, titik-titik awan potensial yang ada di atas Gunung Ciremai bisa segera terstimulasi dan menurunkan hujan,” ujar Dedi Mulyadi.
Pelaksanaan penyemaian garam (NaCl) dari udara ini memanfaatkan pangkalan terdekat, seperti Lanud Sugiri Sukani Majalengka serta Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, menggunakan armada pesawat khusus milik BNPB dan TNI.
Penyemaian diorientasikan tepat di atas bukit dan lereng terdampak agar presipitasi dapat terkonsentrasi membasahi kawasan gambut serta tegakan vegetasi yang terbakar.
Upaya modifikasi cuaca ini disinergikan secara paralel dengan pengerahan helikopter water bombing serta operasi darat oleh tim gabungan BPBD, Balai TNGC, TNI/Polri, dan sukarelawan.
Meski tingkat keberhasilan penyemaian sangat bergantung pada ketersediaan awan Cumulus dan kelembapan atmosfer lokal, langkah terpadu ini diharapkan dapat menghentikan penyebaran api secara total dan mengembalikan keasrian ekosistem Gunung Ciremai. (NARS)
