
KUNINGAN, JABAR — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM menyatakan bahwa kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, kini menunjukkan penurunan signifikan dan ditargetkan padam sepenuhnya.
” Hari ini seluruh titik api di Gunung Ciremai berhasil dipadamkan, ” tulis Gubernur KDM dalam unggahan akun media sosial Instagram miliknya, Sabtu (24/10)2026) siang.
- Gubernur KDM Nyatakan Karhutla Ciremai Diprakirakan Padam, Ini Jenis Helikopter yang Digunakan untuk Water Bombing
- Transformasi Inklusi ke Kesejahteraan Finansial: OJK Kawal Akselerasi Pembiayaan Lewat 552 TPAKD
- Kisah Haru Pemadaman Karhutla Ciremai: Anggota MPA Selamatkan Anakan Surili dari Pohon Hangus
- Helikopter TNI AU dan KDM Turun di Majalengka, Water Bombing Karhutla Gunung Ciremai Segera Dilakukan Siang Ini
- Medan Ekstrem dan Titik Api Bandel: BPBD Kuningan Kerahkan Personel Jalan Kaki Jangkau Lokasi Karhutla Taman Nasional
Keberhasilan penekanan titik api ini tak lepas dari respons cepat penanganan udara melalui operasi pengeboman air atau water bombing yang digencarkan oleh TNI Angkatan Udara.Upaya pemadaman udara intensif dilakukan menyusul sulitnya jangkauan darat menuju titik api yang berada di lereng dan puncak curam kawasan Wilayah I Taman Nasional Gunung Ciremai.
KDM mengungkapkan, intervensi water bombing dari udara merupakan pilihan paling efektif mengingat aksesibilitas fisik personel darat menuju titik kebakaran sangat berisiko dan medan terjal sulit ditempuh secara manual.
Dalam misi kemanusiaan dan penanggulangan bencana ini, TNI Angkatan Udara mengerahkan armada helikopter EC-725/H225M Caracal dari Skadron Udara 8, Wing Udara 4 Lanud Atang Sendjaja, yang beroperasi melalui pangkalan udara pendukung Lanud Sugiri Sukani, Majalengka.
Misi pengeboman air tersebut diawaki oleh Mayor Pnb Apriandani sebagai pilot utama dan Kapten Pnb M. Falah A. sebagai kopilot. Helikopter ini bertugas secara berulang mengguyur area vegetasi yang terbakar di lereng curam dengan kapasitas angkut air mencapai 2.000 liter dalam sekali penumpahan.
Pengerahan alutsista TNI AU ini terbukti efektif dalam memutus rantai api, menekan titik asap tebal, serta mencegah penyebaran kobaran api ke area hutan lindung dan lahan pertanian warga di sekitarnya. Selain pemadaman udara, pemerintah provinsi bersama pihak terkait juga menggerakkan masyarakat lokal dan petugas gabungan di jalur darat untuk pembuatan sekat bakar guna memastikan api tidak kembali meluas.
Helikopter yang diterjunkan dalam penanganan kebakaran di Gunung Ciremai ini merupakan armada angkut berat multiguna taktis buatan Airbus Helicopters. Didukung oleh dua mesin Turbomeca Makila 2A1 turboshaft dengan sistem kontrol FADEC, helikopter ini mampu mencapai kecepatan maksimum sekitar 324 kilometer per jam dan jangkauan operasional hingga 850 kilometer.
Kelebihan utama H225M Caracal terletak pada sistem autopilot 4-axis yang memungkinkan pesawat menjaga posisi melayang secara stabil di atas lereng curam, bahkan di tengah terpaan angin kencang kawasan pegunungan.
Dipadukan dengan sistem kantong air atau Bambi Bucket berkapasitas 2.000 liter, kemampuan manuver tinggi serta daya angkut besar menjadikan helikopter ini sangat andal untuk mendukung operasi penanggulangan bencana alam dan kebakaran hutan di wilayah yang sulit dijangkau. (NARS)
