

KUNINGAN — Memperingati hari kelahiran atau Maulid Nabi Muhammad SAW dinilai bukan sekadar rutinitas untuk mengenang peristiwa sejarah semata. Lebih dari itu, momen ini harus menjadi titik tolak bagi umat Islam untuk memperbarui rasa cinta, syukur, dan komitmen dalam meneladani akhlak Rasulullah.
Pesan tersebut ditegaskan oleh penceramah Kuningan, KH Aman Syamsul Falaah, dalam khutbah Jumatnya pada pekan ini.KH Aman menyampaikan bahwa kehadiran Nabi Muhammad SAW merupakan anugerah dan karunia terbesar dari Allah SWT. Nilainya bahkan melampaui dunia beserta seluruh isinya.
- Tren Foto Vintage 80-an Viral di Media Sosial, Begini Cara Mudahnya Menggunakan AI
- Merawat Ukhuwah dan Meneladani Akhlak Rasulullah di Akhir Zaman
- El Clasico Persib vs Persija: Susanto Prediksi Maung Bandung Menang 1-2, Imbau Bobotoh Tak Ke GBK
- Perkuat Kolaborasi, PHRI Wilayah III Cirebon Gelar Rakorwil di Kuningan
- Isu Geothermal Gunung Ciremai Mencuat Lagi, Ketua Fraksi PDIP Kuningan Sentil Pemda Tak Punya Sikap Jelas
“Oleh karena itu, wujud rasa syukur atas nikmat terbesar ini adalah dengan bergembira menyambut hari kelahirannya. Ketika umat mengontribusikan sebagian hartanya untuk menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi, hal itu jauh lebih baik dibandingkan harta benda yang mereka kumpulkan di dunia,” ujar KH Aman di hadapan para jemaah.
Lebih lanjut, ulama ini menjabarkan tiga hikmah utama dari peringatan Maulid Nabi. Selain sebagai wujud syukur, peringatan ini bertujuan menumbuhkan dan memperbarui rasa cinta kepada Rasulullah.
Menurutnya, cinta tersebut tidak cukup hanya diucapkan di lisan, melainkan harus dibuktikan dengan tindakan nyata.”Bukti cinta itu dilakukan dengan menghidupkan sunnah-sunnahnya, semangat mempelajari sejarah atau sirah nabawiyah, serta senantiasa memperbanyak bacaan selawat,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan, Allah dan para malaikat pun berselawat untuk Nabi. Umat yang berselawat walau hanya satu kali, dijanjikan akan mendapat balasan berupa sepuluh rahmat dari Allah.
Di penghujung pesannya, KH Aman Syamsul Falaah menyampaikan implementasi nilai-nilai peringatan Maulid dalam kehidupan bermasyarakat. Berbagai perayaan Maulid yang diisi dengan pembacaan selawat, asroqalan, maupun tabligh akbar, pada intinya harus mampu menjadi ajang silaturahmi yang merekatkan persaudaraan.
“Intinya adalah memperkuat ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama muslim), ukhuwah basyariyah (persaudaraan kemanusiaan), dan ukhuwah wathoniyah (persaudaraan kebangsaan),” kata KH Aman.
Sebagai wujud nyata atau implementasi (tatbiq), KH Aman mengajak seluruh umat Islam untuk mengamalkan sunnah Nabi dari hal-hal yang sederhana sesuai kemampuan masing-masing. Mulai dari merutinkan salat sunnah seperti Dhuha, Tahajud, dan Rawatib, hingga amalan sosial seperti bersedekah dengan ikhlas, murah senyum, serta saling tolong-menolong (ta’awun).
Meski tampak sederhana, amalan-amalan tersebut diyakini akan mendatangkan kecintaan dan ampunan dari Allah SWT. (NARS)



