

KUNINGAN – Upaya mendongkrak produktivitas hasil panen terus diintensifkan oleh jajaran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di wilayah Kecamatan Sindangagung. Salah satunya melalui agenda pertemuan dan pembinaan rutin bersama kelompok tani (Poktan) yang difokuskan pada empat wilayah binaan, yakni Desa Taraju, Desa Dukuhlor, Desa Babakanreuma, dan Desa Balong.
Suarno, S.P., petugas PPL yang memegang mandat di wilayah tersebut, menegaskan bahwa pendampingan teknis dan transfer keilmuan merupakan rutinitas yang tidak pernah putus dilakukan.
- Ratusan Warga Padati Kodim Kuningan, Berobat dan Khitanan Gratis di HUT ke-81 TNI
- Dari Jet Shooter Antisipasi Karhutla hingga Trash Barrier, Tina Wiryawati Berdayakan Laskar Gerindra Bantu Warga
- Bikin Merinding! King Kobra 3,5 Meter Sembunyi di Bawah Lemari Pesantren, Damkar Kuningan Lakukan Evakuasi Menegangkan
- Semarak 2nd Anniversary di Grand Cordela, Proton FC Kuningan Resmi Tatap Pro Futsal League 2026-2027
- Kurang dari 24 Jam, Polisi Bekuk Sopir Angkot Pelaku Tabrak Lari Lansia di Kuningan
Dalam setiap pertemuan, PPL bersama petani membahas berbagai inovasi pengolahan lahan, solusi atas kendala hama, hingga penyaluran program-program pemerintah.
Bahkan, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, DR Wahyu Hidayah, juga sering ikut dalam pertemuan rutin PPL dengan para petani tersebut.
“Forum pertemuan rutin bersama Poktan ini adalah ruang bagi kami untuk membagikan ilmu secara terbuka. Tujuannya jelas, agar kapasitas petani meningkat dan hasil panen di Sindangagung bisa terus maksimal,” jelas Suarno, PPL yang berdomisili di Kelurahan Sukamulya, Cigugur.
Oleh karena itu, Suarno sangat mendorong agar seluruh petani bergabung dalam kelembagaan resmi. Ia mencontohkan, petani yang berada di luar kelompok rentan tertinggal informasi dan mengalami miskomunikasi, seperti keluhan yang baru-baru ini muncul dari salah seorang petani asal Desa Taraju.
Sebelumnya, salah seorang petani, Tio sempat mengeluhkan kinerja PPL yang dinilai kurang membantu. Namun, setelah ditelusuri, keluhan tersebut berakar dari ketidakhadiran yang bersangkutan dalam agenda-agenda pembinaan.
“Setelah kami kroscek, yang bersangkutan ini ternyata belum terdaftar sebagai anggota Poktan mana pun dan tidak pernah hadir di setiap pertemuan rutin yang kami gelar. Saya pribadi pun belum pernah bertemu langsung dengan beliau. Jadi, wajar jika terjadi komunikasi yang terputus,” terang Suarno.
Selain itu, Suarno juga meluruskan tudingan salah sasaran mengenai PPL yang dituduh menyembunyikan ilmu dan lebih mementingkan bisnis sayuran pribadi. Ia memastikan sosok Petugas PPL yang dimaksud oleh Tio bukanlah petugas penyuluh yang saat ini aktif di Taraju.
“Kemungkinan besar yang beliau maksud adalah seorang mantan PPL yang sekarang sudah tidak bertugas sebagai PPL, yang memang memiliki usaha sayuran. Jadi, bukan PPL yang saat ini bertugas,” tegasnya.
Mengambil pelajaran dari hal tersebut, Suarno kembali mengajak para pahlawan pangan di desa binaannya yang belum berorganisasi untuk segera merapat ke Poktan di wilayah masing-masing.
“Kami selalu terbuka. Mari bergabung dengan kelompok tani agar komunikasi lebih terarah, informasi pertanian tidak terputus, dan pendampingan bisa langsung dirasakan manfaatnya,” jelas Suarno. (NARS)



