
KUNINGAN — Kabupaten Kuningan menjadi tuan rumah peluncuran gerakan tanam serentak nasional musim tanam pertama periode Oktober hingga Desember. Kegiatan yang dipusatkan di Desa Kertaungaran, Kecamatan Sindangagung, pada Sabtu (7/11/2026) ini melibatkan telekonferensi zoom dengan berbagai provinsi lain di Indonesia.
- Kuningan Jadi Tuan Rumah Tanam Serentak Nasional, BPPSDMP Kementan Genjot Perluasan Areal Tanam Hadapi Anomali Iklim
- Listrik Padam Selama Empat Jam Akibat Tertimpa Atap Pasar, Petugas Sudah di Lokasi Puting Beliung Kutawaringin
- Kutawaringin Kuningan Diterjang Puting Beliung: Pasar Desa Hingga Puluhan Rumah Warga Rusak
- Rumah Warga Winduhaji Dilalap Si Jago Merah, Damkar Padamkan Selama 45 Menit
- Mengenang Kerinduan Nabi Muhammad SAW kepada Umat Akhir Zaman
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Dr. Idha Widi Asanti, mengemukakan, momentum musim hujan merupakan waktu yang tepat untuk menggerakkan para petani melakukan penanaman secara bersama-sama.
Gerakan serentak ini didorong untuk mendongkrak target luas tambah tanam nasional yang saat ini menyasar angka sekitar dua juta hektar.
“Pemilihan Kabupaten Kuningan didasarkan pada kesiapan infrastruktur pertanian, termasuk ketersediaan lahan bukaan, cetak sawah rakyat, serta peran Brigade Pangan yang telah dibentuk untuk mendukung akselerasi penanaman,” ujarnya saat dikonfirmasi di lokasi acara.
Pemerintah pusat berharap inisiatif di Kuningan mampu memotivasi daerah lain di dalam maupun luar Pulau Jawa untuk mengoptimalkan potensi agroekosistem masing-masing.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada daerahnya.
” Meskipun menghadapi tantangan musim kemarau yang lebih panjang tahun ini, target capaian luas tambah tanam di Kabupaten Kuningan dipastikan tetap terealisasi dengan baik sesuai dengan target,” sebut Wahyu.
Melalui kegiatan tanam dan panen harian yang terdistribusi sepanjang tahun, pemerintah optimis pola ini mampu menjaga stabilitas harga pangan di pasaran serta mengantisipasi potensi lonjakan harga akibat panen raya yang menumpuk maupun ancaman musim paceklik serta dampak El Nino.
