KUNINGAN – Persoalan lingkungan akibat pembuangan sampah ilegal di Desa Babakanreuma, Kecamatan Sindangagung, mendapat perhatian serius dari anggota DPRD Kabupaten Kuningan, Sri Laelasari. Didampingi Kabid Sumber Daya Air Dinas PUTR Kuningan, Rismunandar, Sri melakukan peninjauan langsung ke lokasi, Kamis (19/6/2025).
Dalam kunjungan tersebut, Sri menyoroti praktik warga yang membuang sampah di lokasi terbuka yang tak semestinya, hingga membentuk gundukan sampah yang mencemari saluran air. Padahal, saluran tersebut merupakan sumber irigasi penting yang mengaliri lahan pertanian warga.
- Punya Potensi Puluhan Ribu Anggota, Pengurus IKA STEMGA Kuningan Resmi Dilantik di Pendopo
- Akui Fasilitas Sekolah Belum Merata, Bupati Kuningan Sampaikan Pesan Ini di Hardiknas 2026
- Akhirnya Terjawab, Kisruh Dana Taspen PPPK Guru Kuningan Telah Diselesaikan Disdikbud
- Mayday 2026: KSPSI Kuningan Desak Buruh Berani Lapor Praktik Upah di Bawah Standar
- Refleksi Milad Ke-94 Pemuda Muhammadiyah untuk indonesia jaya
“Ini sangat memprihatinkan. Sampah tidak hanya mengganggu pemandangan, tapi juga berdampak langsung pada pertanian warga karena mencemari saluran air,” ujar Sri di lokasi.
Ia pun meminta Pemerintah Desa Babakanreuma segera menutup akses ke lokasi pembuangan sampah ilegal tersebut dan tidak lagi membiarkan tempat itu menjadi titik pembuangan liar.
Menurutnya, tindakan tegas harus dibarengi dengan edukasi kepada warga agar tidak mengulangi kebiasaan membuang sampah sembarangan.”Saya minta pemdes segera melakukan penutupan dan mencari solusi permanen. Tapi yang tidak kalah penting, masyarakatnya juga harus diajak untuk peduli. Kesadaran bersama adalah kunci,” tegas Sri.
Menurut Sri, menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi perlu melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Ia mendorong adanya sosialisasi yang berkelanjutan agar warga memahami dampak buruk sampah terhadap kesehatan, pertanian, dan kualitas hidup.
Dirinya mengapresiasi upaya Pemerintah Desa Babakanreuma yang telah membangun sistem pengelolaan sampah mandiri tak jauh dari lokasi pembuangan. Di tempat tersebut, sampah rumah tangga dipilah dan dicacah oleh dua tenaga kerja lokal.


Sampah plastik yang masih bernilai ekonomis dijual kembali, sementara residu dibakar di tempat pembakaran khusus yang disiapkan desa.“Saya melihat ada niat baik dari desa dalam mengelola sampah. Ini patut didukung. Tapi warga juga harus lebih disiplin dan sadar akan pentingnya kebersihan lingkungan,” tambahnya.
Sementara itu, Kabid SDA Dinas PUTR, Rismunandar, menyatakan pihaknya akan menindaklanjuti temuan tersebut dengan berkoordinasi lintas sektor, termasuk dengan Dinas LH, agar saluran irigasi yang terdampak dapat segera dibersihkan dan kembali berfungsi optimal. (NARS)























