KUNINGAN – Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Kuningan mengambil langkah taktis merespons teror hewan pemangsa yang kian meresahkan di Desa Bungurberes, Kecamatan Cilebak.
Pasalnya, intensitas serangan hewan yang diduga anjing hutan (ajag) ini semakin masif dengan total kerugian mencapai puluhan ekor ternak hanya dalam kurun waktu satu bulan.
- Akui Fasilitas Sekolah Belum Merata, Bupati Kuningan Sampaikan Pesan Ini di Hardiknas 2026
- Akhirnya Terjawab, Kisruh Dana Taspen PPPK Guru Kuningan Telah Diselesaikan Disdikbud
- Mayday 2026: KSPSI Kuningan Desak Buruh Berani Lapor Praktik Upah di Bawah Standar
- Refleksi Milad Ke-94 Pemuda Muhammadiyah untuk indonesia jaya
- Karya Bakti Kodim Kuningan: Sinergi TNI dan Warga Kebut Pembangunan Jalan Cimenga
Kepala Bidang Peternakan Diskanak Kabupaten Kuningan, drh. Rofiq, menyebutkan pihaknya telah memberikan arahan kepada Pemerintah Desa Bungurberes untuk segera mengambil tindakan pengendalian populasi.
Ia meminta pihak desa agar berkoordinasi dengan Persatuan Menembak Indonesia (Perbakin) guna memburu kawanan predator tersebut.
“Kami sudah berkoordinasi dengan UPTD Peternakan setempat dan Kami menyarankan dan meminta pihak desa segera berkoordinasi dengan Perbakin. Langkah ini diperlukan untuk penanganan teror anjing hutan yang memangsa kambing peternak,” tegas Rofiq, Selasa (13/1).
Rofiq menekankan bahwa langkah perburuan ini tidak menyalahi aturan konservasi. Ia memastikan bahwa anjing hutan atau anjing liar yang menjadi biang kerok kematian ternak warga tersebut bukan termasuk dalam kategori satwa yang dilindungi undang-undang.
Desakan penanganan ini beralasan kuat. Kaur Keuangan Pemerintah Desa Bungurberes, Uju Junaedi, membenarkan data mengerikan terkait jumlah korban ternak di wilayahnya. Ia mengonfirmasi bahwa rentetan serangan ini telah menyebabkan puluhan kambing milik warga mati sia-sia.
“Benar, total ada sebanyak 43 ekor kambing milik peternak di desa kami yang diduga kuat dimangsa oleh anjing hutan atau ajag. Jumlah tersebut akumulasi kejadian dalam sebulan terakhir ini saja,” ungkap Uju Junaedi.
Serangan paling anyar terjadi pada Senin (12/1) malam di Dusun Bangbayang. Dalam insiden semalam suntuk itu, 16 ekor kambing ditemukan mati dengan kondisi mengenaskan di dalam kandang, memaksa warga melakukan penguburan massal keesokan harinya.
Sembari menunggu realisasi kerjasama perburuan dengan Perbakin, Uju menyebutkan bahwa warga desa kini memperketat penjagaan. Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling) dan ronda malam diaktifkan secara bergiliran untuk memantau area sekitar kandang dari ancaman susulan.(Nars)












