

KUNINGAN – Upaya membentengi kawasan konservasi dari ancaman karhutla Gunung Ciremai terus diperluas dengan menetapkan Kecamatan Cigugur sebagai titik ketiga pusat kesiapsiagaan darurat di Kabupaten Kuningan.
Penetapan zona pertahanan baru ini diwujudkan melalui pergerakan serentak ratusan relawan bersama aparat pemerintah, unsur TNI, dan Polri yang menggelar konsolidasi pengamanan di kawasan wisata Bumi Perkemahan Palutungan pada Senin 7 September 2026.
- Cigugur Ditetapkan Jadi Titik Ketiga Pengamanan Karhutla Gunung Ciremai
- Siaga Karhutla Kuningan Menguat, Tim Gabungan Bentuk Barikade di Titik Rawan
- Wahana Ajaib Lolos Dramatis ke Final U-18 dan Bidik Tiket Kejuaraan Nasional U-19
- Erupsi Anak Krakatau Meluas, Empat Bandara Ditutup Sementara dan Pesisir Selat Sunda Dipastikan Aman
- Bangkitkan Ekonomi dan Pariwisata Lewat 200 Becak Listrik Karya Anak Bangsa
Pemilihan Cigugur sebagai titik ketiga pengamanan dinilai sangat krusial mengingat topografi wilayah ini bersinggungan langsung dengan lereng gunung dan padatnya aktivitas pariwisata.
Guna memastikan kesiapan di titik baru ini, tim gabungan langsung menggelar uji coba taktis menggunakan mesin penyedot air berkapasitas tinggi untuk menyapu titik api buatan, membuktikan bahwa perangkat portabel mereka mampu menjangkau area krisis secara cepat.
Camat Cigugur Yono Rahmansah menegaskan bahwa status wilayahnya sebagai garda ketiga mitigasi menuntut kolaborasi yang lebih masif dari seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Edukasi langsung ke akar rumput guna menekan aktivitas pemicu api di lahan kering menjadi prioritas utama, karena pendekatan pencegahan dini terbukti lebih logis dan efisien ketimbang harus memadamkan bencana yang terlanjur meluas.
Strategi menjadikan Cigugur sebagai pos pertahanan prabencana ini juga mendapat sokongan penuh dari jajaran kepolisian, komando rayon militer setempat, hingga otoritas Balai Taman Nasional Gunung Ciremai. Sinergi lintas sektoral tersebut dikukuhkan sebagai prosedur wajib untuk mendeteksi kemunculan titik panas secara akurat dan memotong jalur rambatan api sebelum menyentuh zona inti hutan lindung.
Kapasitas penjagaan di titik ketiga ini semakin kuat dengan hadirnya elemen sipil yang dipelopori oleh Masyarakat Peduli Api dari jaringan Paguyuban Silihwangi Majakuning.
Ketua paguyuban Nandar Junar Arif menjamin ratusan anggotanya siap disiagakan sebagai mata dan telinga pemerintah, memantau setiap indikasi awal kebakaran sekaligus mengerahkan armada pemukul awal saat situasi darurat tidak terhindarkan.
Pengukuhan sistem keamanan terpadu di titik ini pada akhirnya bertujuan memberikan garansi keselamatan bagi ekosistem sabuk hijau sekaligus menopang stabilitas perputaran ekonomi lokal. Penjagaan berlapis ini menjadi perisai yang memastikan denyut pariwisata di kawasan Palutungan tetap berjalan normal dan aman dari ancaman kabut asap sepanjang puncak musim kemarau tahun ini. (Nars)



