

JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengintensifkan pemantauan 24 jam menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan analisis citra satelit pada Ahad (6/9/2026), sebaran abu vulkanik telah meluas secara signifikan hingga memicu penutupan operasional empat bandar udara demi memprioritaskan keselamatan penerbangan sipil.
Melansir laman resmi BMKG, terpantau dua klaster utama sebaran abu vulkanik yang memengaruhi ruang udara di berbagai daerah. Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa pergerakan abu vulkanik tersebut menyebar mengikuti arah angin di dua lapisan ketinggian udara.
- Wahana Ajaib Lolos Dramatis ke Final U-18 dan Bidik Tiket Kejuaraan Nasional U-19
- Erupsi Anak Krakatau Meluas, Empat Bandara Ditutup Sementara dan Pesisir Selat Sunda Dipastikan Aman
- Bangkitkan Ekonomi dan Pariwisata Lewat 200 Becak Listrik Karya Anak Bangsa
- Antisipasi Kebakaran dan Pulihkan Ekosistem, Pendakian Gunung Ciremai Ditutup Mulai Besok
- Cipakem Charity Ride 2026 jadi Ajang Patroli Bersama Cegah Karhutla di Kawasan Perhutani
Pada ketinggian 20.000 kaki, abu bergerak ke arah timur laut hingga selatan, menyelimuti sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Sementara itu, pada ketinggian 50.000 kaki, material vulkanik terbawa angin ke arah barat daya hingga barat laut, mencakup kawasan Banten, Lampung, Bengkulu, hingga Samudra Hindia.
Sejak letusan awal yang terjadi pada 4 September 2026, BMKG secara tanggap telah merilis 50 peringatan dini cuaca penerbangan (SIGMET). Merespons peringatan krusial tersebut, Perum LPPNPI (AirNav Indonesia) menerbitkan Notice to Airmen (NOTAM) darurat yang berujung pada penutupan operasional sementara di empat fasilitas penerbangan.
Keempat bandara yang terdampak meliputi Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang, Bandar Udara Halim Perdanakusuma di Jakarta, Bandar Udara Radin Inten II di Lampung, serta Bandar Udara Budiarto di Tangerang. Keputusan ini merupakan langkah strategis kolaboratif lintas sektor penerbangan nasional.
Di tengah peningkatan aktivitas vulkanik ini, Plh. Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, memastikan bahwa kondisi perairan di sekitar Selat Sunda masih terkendali dan terbebas dari ancaman tsunami.
Berdasarkan data dari 20 sensor tsunami gauge di sekitar kawasan tersebut, tidak ditemukan adanya anomali perubahan muka air laut yang berbahaya.
Pemantauan menggunakan teknologi Radar High-Frequency (HF) juga mencatat tinggi gelombang laut masih tergolong normal di kisaran satu meter.BMKG memang mendeteksi adanya fenomena sekunder berupa gangguan geomagnetik dan petir vulkanik pada rentang waktu 12 jam terakhir.
Namun, Ardhasena menegaskan bahwa intensitas gangguan tersebut terpantau lebih rendah dibandingkan saat fase letusan pertama.Terkait prakiraan cuaca di sekitar Gunung Anak Krakatau untuk periode 6 hingga 8 September 2026,
BMKG memprediksi kondisi secara umum cerah hingga berawan. Angin diperkirakan dominan berembus dari arah timur hingga tenggara dengan kecepatan mencapai 31 sampai 37 kilometer per jam.
Melalui sistem pemantauan terpadu multi-instrumen yang terintegrasi bersama PVMBG-Badan Geologi, BMKG terus bersinergi memantau perkembangan situasi secara real-time. Pemerintah mengimbau seluruh lapisan masyarakat, khususnya yang beraktivitas dan bermukim di sepanjang pesisir Selat Sunda, untuk tidak panik dan tetap waspada.
Warga diminta menyaring ketat setiap informasi yang beredar dan hanya merujuk pada saluran komunikasi resmi instansi berwenang guna mencegah penyebaran isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. (Nars)



