

KUNINGAN – Usia senja sering kali menjadi batasan bagi seseorang untuk tetap produktif di dunia kerja. Namun, di Kabupaten Kuningan, semangat para warga lanjut usia (lansia) kini kembali menyala berkat hadirnya inovasi transportasi ramah lingkungan: becak listrik.
Sebanyak 200 unit becak listrik produksi dalam negeri kini tidak hanya menjadi alat transportasi, tetapi juga tulang punggung penyokong roda ekonomi warga lokal.
- Wahana Ajaib Lolos Dramatis ke Final U-18 dan Bidik Tiket Kejuaraan Nasional U-19
- Erupsi Anak Krakatau Meluas, Empat Bandara Ditutup Sementara dan Pesisir Selat Sunda Dipastikan Aman
- Bangkitkan Ekonomi dan Pariwisata Lewat 200 Becak Listrik Karya Anak Bangsa
- Antisipasi Kebakaran dan Pulihkan Ekosistem, Pendakian Gunung Ciremai Ditutup Mulai Besok
- Cipakem Charity Ride 2026 jadi Ajang Patroli Bersama Cegah Karhutla di Kawasan Perhutani
Program yang diinisiasi oleh Yayasan Solidaritas Nasional di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto ini membawa misi sosial yang mendalam. Alih-alih sekadar membagikan kendaraan, program ini secara khusus menargetkan masyarakat—utamanya kaum bapak—yang telah berusia 55 tahun ke atas.
Di rentang usia tersebut, kesempatan untuk bekerja di sektor formal, seperti pabrik, sering kali sudah tertutup. Melalui bantuan moda transportasi bebas emisi ini, mereka kembali memiliki kesempatan untuk tetap produktif, bekerja, dan mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Menariknya, 200 unit becak listrik hasil rakitan PT Pindad ini dirancang agar multifungsi. Fungsi becak tidak lagi terbatas pada mengantar penumpang. Kendaraan ini dapat dioptimalkan untuk mendukung ekosistem Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Warga penerima manfaat dapat memodifikasi ruang pada becak untuk berjualan secara berkeliling, mulai dari menjajakan kopi seduh hingga makanan ringan.
Selain pemberdayaan ekonomi, penyaluran becak listrik ini juga membawa visi jangka panjang bagi wajah pariwisata Kabupaten Kuningan. Mengingat Kuningan memiliki topografi alam yang indah namun identik dengan transportasi tradisional seperti Delman, kehadiran becak listrik diproyeksikan untuk menjadi alternatif wisata yang modern namun tetap merawat kearifan lokal.
Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani pada agenda tersebut mengarahkan agar operasional becak-becak listrik ini difokuskan di sekitar objek-objek wisata. Kehadiran transportasi tanpa suara bising dan tanpa asap knalpot ini diharapkan mampu memperkuat daya tarik destinasi wisata Kuningan, menjadikannya lebih tertata dan ramah lingkungan.
Pemerintah daerah setempat, ujar Tuti, sangat menyambut antusias inisiatif ini. Bantuan ini dinilai sebagai wujud kepedulian nyata bagi masyarakat bawah yang membutuhkan solusi konkret untuk menyambung hidup, tanpa harus membebani tenaga fisik mereka secara berlebihan di usia tua.
Layaknya peralihan ke kendaraan listrik pada umumnya, tantangan yang muncul adalah infrastruktur pengisian daya baterai (charging), terutama bagi warga penerima bantuan yang memiliki daya listrik rumahan terbatas.
Sebagai solusi awal, becak listrik ini dirancang layaknya sepeda listrik yang praktis dan dapat diisi ulang dayanya langsung di rumah masing-masing. Meski demikian, pihak penyelenggara program tidak menutup mata terhadap kendala di lapangan.
Ke depannya, wacana untuk menggandeng Perusahaan Listrik Negara (PLN) terus didorong guna membangun terminal pengisian daya atau Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di titik-titik strategis. (Nars)



