
KUNINGAN – Melestarikan populasi hewan lokal tidak cukup hanya dengan memantau jumlah ekor, melainkan harus dibarengi dengan pemenuhan gizi yang konsisten. Hal ini menjadi fokus utama dalam upaya pelestarian Sapi Pasundan di Kabupaten Kuningan, yang saat ini populasinya tersebar di 16 kecamatan.
Data dari Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Kuningan mencatat kawasan timur Kuningan menjadi basis populasi terbesar sapi lokal tersebut. Kecamatan Cibingbin menempati urutan pertama dengan 1.689 ekor, diikuti Kecamatan Cimahi (1.235 ekor), Luragung (576 ekor), dan Ciwaru (538 ekor).
- Kebakaran Gunung Ciremai Meluas ke Gunung Dulang, Angin Kencang dan Medan Terjal Hambat Pemadaman
- Geger Kebakaran di SPBE Cigugur Kuningan, Ini Kronologinya
- DAK Fisik Kuningan Nihil di 2027, Sohibul Imam: Penetapan Anggaran Merupakan Kewenangan Pemerintah Pusat
- Ketimpangan Literasi versus Inklusi Keuangan Picu 40 Aduan Setiap Hari, OJK Cirebon Wanti-Wanti Bahaya Penyalahgunaan KTP
- Sambut HUT ke-62 Partai Golkar, Sejumlah Kader Gelar Ziarah, Ini Daftar Lokasi Makam yang Dikunjungi
Meski populasinya stabil, metode pemeliharaan semi-intensif yang masih dipegang teguh oleh peternak lokal memunculkan tantangan tersendiri. Pada pagi hingga sore hari, ternak biasanya diumbar untuk mencari makan sendiri di lahan Perhutani, dan baru dikandangkan pada malam hari.
Kepala Bidang Peternakan pada Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Kuningan, drh. Rofiq, menyoroti ketersediaan dan kualitas rumput alami di kawasan Perhutani yang tidak selalu stabil.
“Lama-kelamaan rumput di lahan umbaran akan habis atau kualitas gizinya kurang memadai. Jika sapi kekurangan gizi, dampaknya sama seperti manusia, yakni terjadi stunting atau masalah reproduksi. Sapi betina yang kurang gizi akan sulit bunting meskipun sudah dikawinkan atau di-IB (Inseminasi Buatan),” papar Rofiq.
Untuk mencegah kemunduran genetik dan turunnya angka kelahiran, pemerintah daerah melakukan intervensi berkelanjutan. Peternak didorong untuk membudidayakan hijauan pakan ternak (HPT) berkualitas tinggi di lahan pribadi mereka, seperti rumput Odot dan Indigofera.
“Hasil panen rumput berkualitas ini dijadikan pakan tambahan saat ternak kembali ke kandang di malam hari. Dengan gizi yang tercukupi, tingkat kebuntingan dan kelahirannya akan tinggi, sehingga produktivitas sapi Pasundan tetap prima,” jelasnya.
Upaya konservasi ini juga didukung oleh keberadaan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) di simpul-simpul populasi seperti Cibingbin.
Fasilitas ini memastikan setiap keluhan penyakit ternak dapat ditangani secara cepat, menjamin kelangsungan hidup plasma nutfah ikon Jawa Barat ini di tanah Kuningan. (NARS)
