
KUNINGAN – Di tengah gempuran sapi ras impor bertubuh raksasa seperti Limousin dan Simmental, Kabupaten Kuningan terus merawat warisan genetik lokal bernilai tinggi, yakni Sapi Pasundan. Sapi yang telah mengantongi Standar Nasional Indonesia (SNI) ini bukan sekadar ternak biasa, melainkan ikon identitas peternakan Jawa Barat.
Kepala Bidang Peternakan pada Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Kuningan, drh. Rofiq, menjelaskan bahwa sejarah Sapi Pasundan bermula dari kawasan Rancah, Ciamis pada era kolonial.
- Kebakaran Gunung Ciremai Meluas ke Gunung Dulang, Angin Kencang dan Medan Terjal Hambat Pemadaman
- Geger Kebakaran di SPBE Cigugur Kuningan, Ini Kronologinya
- DAK Fisik Kuningan Nihil di 2027, Sohibul Imam: Penetapan Anggaran Merupakan Kewenangan Pemerintah Pusat
- Ketimpangan Literasi versus Inklusi Keuangan Picu 40 Aduan Setiap Hari, OJK Cirebon Wanti-Wanti Bahaya Penyalahgunaan KTP
- Sambut HUT ke-62 Partai Golkar, Sejumlah Kader Gelar Ziarah, Ini Daftar Lokasi Makam yang Dikunjungi
Seiring waktu, untuk memperkuat identitas kedaerahan di tingkat provinsi, sapi ini dikukuhkan dengan nama Sapi Pasundan.
Secara fisik, Sapi Pasundan dewasa memang tidak sebesar ras Eropa. Bobot maksimalnya umumnya berada di kisaran 300 kilogram. Namun, keistimewaan sesungguhnya terletak pada kualitas dagingnya.
“Jika diibaratkan, Sapi Pasundan ini adalah ayam kampungnya sapi. Karena pola pemeliharaannya yang semi-intensif dan mengonsumsi pakan alami dari alam, kualitas dagingnya sangat istimewa. Berdasarkan informasi dari Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), serat dan kualitas daging Sapi Pasundan hampir menyerupai daging Wagyu dari Jepang,” ungkap Rofiq, Jum’at (4/9/2026).
Kualitas premium yang terbentuk dari pakan alami ini membuka potensi pasar eksklusif. Rofiq menekankan bahwa secara hitungan bisnis ekonomi murni, beternak Sapi Pasundan membutuhkan kesabaran karena masa pertumbuhannya yang lebih lambat dibanding sapi impor.
Oleh karena itu, diperlukan perlakuan harga yang berbeda di pasaran untuk menunjang kesejahteraan peternak.
“Karena kualitasnya setara Wagyu, harganya tidak boleh disamakan dengan daging sapi biasa. Ke depan, ini yang terus didorong agar daging Sapi Pasundan bisa masuk ke hotel dan restoran dengan harga khusus kelas premium, misalnya untuk sajian steak,” tambahnya.
Melalui potensi ekonomi eksklusif dan dorongan pemerintah daerah, Sapi Pasundan diharapkan tidak hanya lestari sebagai plasma nutfah lokal, tetapi juga menjadi komoditas kuliner kebanggaan yang menyejahterakan peternak Kuningan. (NARS)
