

KUNINGAN – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kuningan terus berinovasi dalam menjalankan fungsi pembinaan. Tak sekadar menjadi tempat penahanan, Lapas Kuningan kini bertransformasi menjadi kawah candradimuka yang mencetak warganya menjadi insan mandiri dan siap kerja. Inovasi ini diwujudkan secara nyata melalui peluncuran unit usaha peternakan terintegrasi bernama “Wangun Mandiri Farm”.
Hal tersebut dipaparkan secara langsung oleh Kepala Lapas Kelas IIA Kuningan, Eries Sugianto, dalam pertemuan dengan awak media pada Selasa (22/9/2026).
- Hapus Stigma Sosial, Lapas Kuningan Sulap Warga Binaan dan Mantan Napi Jadi Insan Siap Kerja Lewat ‘Wangun Mandiri Farm’
- Krisis Air Bersih Masih Melanda, Karangkancana Kembali Diguyur Bantuan 5.000 Liter dari BPBD Kuningan
- HMI FE Uniku Jadikan Maulid Nabi 1448 H Momentum Penguatan Karakter Mahasiswa
- Mengintip Rincian Biaya Produksi Petani Kuningan Saat Kemarau: Ongkos Air dan Perawatan Melonjak Tajam
- Soal Polemik Sanksi RS Permata, Frontal Desak Inspektorat Turun Tangan
Menurut Eries, terwujudnya lingkungan lapas yang aman, patuh, dan berintegritas menjadi fondasi utama bagi pihaknya untuk memfokuskan energi pada ketahanan pangan dan pembekalan keterampilan warga binaan agar siap kembali ke masyarakat.
“Kita sadar bahwa masalah utama yang dihadapi oleh mantan warga binaan adalah besarnya stigma dan kesulitan luar biasa saat mencari pekerjaan setelah mereka bebas. Oleh karena itu, Wangun Mandiri Farm hadir sebagai solusi dengan secara aktif menyerap tenaga kerja langsung dari mantan warga binaan,” ujar Eries Sugianto.
Untuk memastikan kesiapan para warga binaan, Lapas Kuningan tidak sembarangan dalam mempekerjakan mereka. Eries memaparkan adanya Peta Jalan Reintegrasi Sosial dan Pemberdayaan yang terbagi dalam empat fase terukur.
Langkah ini dimulai dari Fase 1 yakni Asesmen untuk mendata keterampilan awal calon tenaga kerja, disusul Fase 2 Pembekalan yang berisi pelatihan teknis operasional peternakan dan produksi susu.
Selanjutnya, pada Fase 3 mereka akan menandatangani kontrak kerja profesional dan terjun langsung ke lapangan, hingga bermuara di Fase 4 yakni Kemandirian, di mana pihak Lapas terus memberikan pendampingan berkelanjutan agar reintegrasi sosial berjalan sukses.
Dalam operasional kerjanya, para mantan napi dan warga binaan diberikan peran dan tanggung jawab penuh. Pekerjaan mereka meliputi perawatan ternak, pemerahan, pembersihan kandang, pengolahan pakan, hingga pengemasan dan pemeliharaan lahan.
Dedikasi tersebut membuahkan hasil berupa produksi susu pasteurisasi unggulan. Eries menegaskan bahwa proses produksinya dilakukan dengan standar yang ketat, dimulai dari pemerahan higienis, pendinginan, dan pasteurisasi dengan pengawasan suhu yang presisi.
“Kami juga memastikan pengemasan dan penyimpanannya menggunakan sistem rantai dingin (cold chain) sebelum didistribusikan kepada koperasi, kantin, pegawai, hingga masyarakat sekitar,” tambahnya.
Saat ini, program pemberdayaan tersebut tengah berada dalam fase akselerasi. Lapas Kuningan menetapkan target 100 hari untuk merampungkan uji coba formula dan kemasan, penyusunan SOP produksi, pembuatan identitas merek (branding), serta pelaksanaan uji pasar secara terbatas.
Melalui pembekalan keterampilan dan kemandirian finansial ini, Eries Sugianto optimis langkah ini akan membawa dampak jangka panjang.
“Harapan terbesar kita adalah mengurangi risiko pengulangan tindak pidana (residivisme). Dengan membekali mereka menjadi insan siap kerja, kita bantu mereka menghapus stigma dan kembali merajut masa depan di tengah masyarakat,” tutup Eries. (NARS)



