

KUNINGAN – Dampak kemarau panjang bagi petani padi di Kecamatan Maleber, Kabupaten Kuningan, kini bisa diukur langsung dari tingginya pembengkakan biaya operasional di lapangan. Kondisi cuaca yang mengering memaksa para petani menanggung tambahan modal produksi hingga Rp2 juta per hektare hanya demi menyelamatkan tanaman mereka dari ancaman gagal panen.
Asep (52), salah seorang petani setempat, membeberkan bahwa dalam kondisi cuaca normal, kebutuhan modal untuk mengelola satu hektare sawah biasanya hanya berkisar di angka Rp8 juta.
- HMI FE Uniku Jadikan Maulid Nabi 1448 H Momentum Penguatan Karakter Mahasiswa
- Mengintip Rincian Biaya Produksi Petani Kuningan Saat Kemarau: Ongkos Air dan Perawatan Melonjak Tajam
- Soal Polemik Sanksi RS Permata, Frontal Desak Inspektorat Turun Tangan
- DPRD Kuningan Desak Pemkab Relokasi Warga Desa Randusari Terdampak Operasional Waduk Kuningan
- Identitas Terungkap Lewat KTP, Keluarga Korban Penemuan Kerangka di Kuningan Tolak Otopsi
Namun, akibat kemarau ekstrem, total biaya produksi yang harus disiapkan kini meroket menjadi sekitar Rp10 juta per hektare.
Menurutnya, berdasarkan rincian pengeluaran, pembengkakan anggaran terbesar tersedot untuk kebutuhan irigasi buatan. Jika pada musim biasa biaya pengairan hanya memakan dana sekitar Rp500 ribu, kini petani harus mengalokasikan hingga Rp1,5 juta.
Lonjakan ongkos ini dihabiskan untuk mengoperasikan mesin pompa, membeli bahan bakar secara rutin, hingga membayar upah tenaga kerja tambahan guna memastikan air terdistribusi ke lahan yang retak.
Selain sektor pengairan, imbuh Asep, cuaca panas yang ekstrem juga memicu peningkatan biaya perawatan tanaman. Pembelian pestisida tercatat naik dari Rp700 ribu menjadi Rp900 ribu per hektare.
Sementara itu, komponen pembiayaan dasar lainnya relatif tetap, yakni meliputi pembelian benih sebesar Rp600 ribu, pupuk Rp1,8 juta, biaya pengolahan lahan Rp1 juta, upah tenaga kerja reguler Rp3,4 juta, dan rupa-rupa biaya lainnya sekitar Rp500 ribu.
” Ironisnya, besarnya modal ekstra sebesar Rp10 juta tersebut tidak berujung pada hasil panen yang maksimal. Cuaca kemarau justru membuat produktivitas sawah anjlok 20 persen, turun dari rata-rata 6 ton menjadi hanya 4,8 ton gabah per hektare,” jelasnya.
Dengan asumsi harga gabah di pasaran Rp6.000 per kilogram, omzet atau pendapatan kotor petani otomatis merosot dari Rp36 juta menjadi Rp28,8 juta saja.Kalkulasi di atas kertas ini menunjukkan realitas finansial yang pahit, di mana laba bersih petani per hektare menyusut tajam dari Rp28 juta menjadi hanya tersisa Rp18,8 juta.
Rincian ongkos produksi yang makin mencekik inilah yang pada akhirnya membuat para petani harus berhitung ulang, bahkan bersiap memangkas luas area tanam atau beralih ke komoditas palawija yang lebih hemat air pada musim tanam mendatang. (NARS)



