KUNINGAN – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) meluncurkan secara resmi (kick-off) program Kampung Tanggap Bencana (Katana) di Desa Sangkanerang, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Kamis (6/8/2026). Program kolaboratif ini dihadirkan untuk memperkuat kesiapsiagaan dan kapasitas mitigasi bencana berbasis masyarakat di wilayah yang tergolong rawan bencana.
Bupati Kuningan dalam sambutannya memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif BAZNAS yang melangkah selain penghimpunan zakat rutin dengan masuk ke ranah edukasi kebencanaan. Menurutnya, penanganan bencana tidak bisa diselesaikan oleh satu instansi saja seperti BPBD, melainkan membutuhkan kerja sama dan kesadaran kolektif lintas sektor.
- Siswa SD Desa Puncak Mulai Kenal AI, Mahasiswa IPB University Gelar Edukasi Digital hingga Keuangan
- Sisi Lain Viral Wisata Curug Bebedahan Kuningan: Berpotensi Besar, Namun Minim Anggaran
- Puncak Kemarau Tiba: Ini 8 Langkah Cerdas “Menabung Air” Saat Hujan Tak Lagi Turun
- Drama Adu Penalti di Final Piala Presiden 2026, Persebaya Surabaya Rengkuh Trofi Juara Usai Taklukkan Persib Bandung dengan Skor 6-5
- Pelatih Igor Tolic Masukkan Kiper Fitrah Maulana Gantikan Teja Paku Alam Jelang Adu Penalti Laga Final Piala Presiden 2026
“Bencana tidak bisa kita hindari, tetapi risikonya bisa kita minimalisasi melalui kolaborasi. Pembangunan itu tidak hanya secara fisik seperti jalan atau gedung, melainkan juga membangun kepedulian dan rasa gotong royong masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana,” ujar Bupati Kuningan.
Ia menuturkan bahwa Kabupaten Kuningan memiliki tingkat kerawanan bencana yang kompleks. Selain ancaman pergeseran tanah dan longsor yang mendominasi kawasan selatan dan utara, perubahan tata ruang kini juga memicu potensi banjir di wilayah timur serta risiko kekeringan di beberapa titik saat musim kemarau.
Sementara itu, Wakil Ketua 2 BAZNAS Provinsi Jawa Barat, K.H. Dr. H. Anang Jauharuddin, menyampaikan bahwa Katana merupakan program unggulan BAZNAS Pusat yang dioperasionalkan oleh BAZNAS Tanggap Bencana (BTB) dengan dukungan BAZNAS Jawa Barat dan Kabupaten Kuningan. Program Katana ini umumnya diintegrasikan dengan program Madrasah Aman Tanggap Bencana (Mantap).
“Jawa Barat dianugerahi alam yang sangat indah, tetapi di baliknya terdapat potensi ancaman bencana yang luar biasa. Melalui Katana, BAZNAS menyalurkan kembali dana zakat kepada masyarakat dalam bentuk pelatihan dan kesiapsiagaan yang disesuaikan dengan karakter wilayah setempat,” jelas K.H. Anang.
Dalam momen tersebut, K.H. Anang juga bernostalgia mengenang Kabupaten Kuningan sebagai “kampung kedua” baginya, mengingat rekam jejaknya saat melakukan aksi long march Menwa Batalyon 9 menyusuri lereng Gunung Ciremai pada tahun 1978 semasa menjadi mahasiswa.
Acara peresmian ini juga diwarnai penjelasan sejarah lokal oleh Kepala Desa (Kuwu) Sangkanerang. Ia memaparkan bahwa Sangkanerang merupakan desa induk yang memiliki keterikatan sejarah dengan penyebaran agama Islam dari Kesultanan Cirebon.
Nama “Sangkanerang” berasal dari petilasan Mbah Kuwu Cirebon Girang (Mbah Kuwu Sangkan) dan ditemukannya mata air bening (cai herang) yang dahulu digunakan sebagai sarana pengobatan. Kombinasi nama “Sangkan” dan “Herang” itulah yang melatarbelakangi penamaan desa tersebut hingga saat ini.
Kegiatan peluncuran Katana ini turut dihadiri oleh Ketua BAZNAS Kabupaten Kuningan K.H. Yusron beserta jajaran, perwakilan BAZNAS Kota Cirebon, Kepala Pelaksana BPBD, Kepala Dinas Sosial, perwakilan Kementerian Agama, unsur DPMD, Bagian Kesra, Camat Jalaksana, serta para tokoh masyarakat dan alim ulama setempat.
Melalui program ini, BAZNAS dan Pemerintah Kabupaten Kuningan berharap kelembagaan Katana dapat berjalan secara berkelanjutan untuk menciptakan masyarakat yang mandiri dan tangguh bencana. (Nars)












