

KUNINGAN – Anggota Fraksi Partai Gerindra DPRD Provinsi Jawa Barat, Hj. Tina Wiryawati, S.H., M.M., menyoroti pentingnya pendidikan karakter bagi generasi Z di tengah masifnya arus digitalisasi. Hal ini disampaikannya usai merampungkan rangkaian kegiatan “Ngabela Nagara” yang diinisiasi Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Jawa Barat selama tiga hari di Kabupaten Kuningan.
Kegiatan edukasi wawasan kebangsaan ini melibatkan ratusan pelajar tingkat SMA dan SMK se-Kabupaten Kuningan. Menurut Tina, konsep bela negara di era modern tidak lagi dimaknai dengan memanggul senjata di medan perang, melainkan harus diwujudkan melalui perilaku positif dan kepatuhan terhadap hukum yang berlaku.
- Akses Desa Gunung Manik Mulus, TMMD Kodim Kuningan Resmi Tuntas
- Tiga Hari Ikuti “Ngabela Nagara” Bakesbangpol Jabar, Tina Wiryawati Soroti Apatisme Gen Z
- Soal Pembangunan Cisantana dan Isu “RTRW Pesanan Investor”, DPRD Kuningan Minta Pemkab Dipertanyakan
- DPRD Kuningan Janji Transparan dan Hati-hati Bahas Raperda RTRW, Siap Libatkan Pakar dan Aktivis
- Dorong UMKM Naik Kelas, PNM Cirebon Padukan Akses Modal dan Perluasan Jejaring Lewat PKU Akbar 2026
“Perilaku bela negara sekarang itu wujudnya taat hukum, tidak ikut-ikutan geng motor, menghindari knalpot brong, setop bullying, tidak tawuran, dan mau mencintai produk-produk lokal kita,” ujar Tina, Kamis (17/9/2026).
Legislator dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jabar 13 (Kuningan, Ciamis, Pangandaran) ini secara khusus mengaku khawatir dengan tren sikap acuh dan apatisme di kalangan anak muda saat ini. Ia menilai paparan gawai yang masif, media sosial, dan maraknya informasi hoaks berpotensi besar mengikis rasa nasionalisme jika tidak diimbangi dengan edukasi karakter yang kuat.
“Karakter anak-anak muda generasi Z ini yang kelak memimpin menuju Indonesia Emas 2045. Kalau tidak dibangun dari sekarang, saya khawatir mereka menjadi generasi yang acuh. Jika mereka sudah tidak peduli lagi bahwa mereka ini Warga Negara Indonesia, bangsa kita bisa pecah. Uni Soviet dan Yugoslavia dulu kurang besar apa? Ujung-ujungnya pecah,” tegasnya.
Sikap apatis ini, lanjut Tina, juga menjadi kekhawatiran menjelang pesta demokrasi, di mana partisipasi pemilih pemula di Tempat Pemungutan Suara (TPS) berpotensi rendah. Selain itu, ketidakpedulian juga terlihat dari minimnya kesadaran menjaga fasilitas publik.
Ia menyayangkan maraknya aksi vandalisme berupa grafiti di fasilitas umum yang sejatinya dibangun menggunakan anggaran negara.
Sebagai langkah konkret, kegiatan “Ngabela Nagara” ini turut dirangkai dengan aksi penghijauan melalui penanaman bibit pohon. Tina menegaskan, menjaga kelestarian alam merupakan salah satu implementasi nyata dari perilaku bela negara.
Terkait pelaksanaan program, Tina memaparkan bahwa edukasi ini ditargetkan menyentuh 300 siswa di setiap titik sasaran. Di Kabupaten Kuningan sendiri, program ini direncanakan bergulir di enam titik berbeda.
“Kemarin sudah tiga rangkaian, nanti batch kedua akan dilanjut lagi sekitar tanggal 6, 7, dan 8. Totalnya di Kuningan ada enam titik, lalu Ciamis enam titik, dan Pangandaran,” paparnya.
Di akhir penjelasannya, Tina mengungkapkan pembentukan karakter tidak bisa dilakukan secara instan hanya melalui satu kali kegiatan. Upaya ini harus dilakukan secara masif dan berkelanjutan.
“Karakter itu tidak bisa dibangun hanya sekali, ujungnya harus menjadi sebuah perilaku. Tugas ini tentu bukan hanya tanggung jawab perwakilan rakyat, tetapi pada akhirnya sangat bergantung pada sinergi dan peran aktif dari pihak sekolah serta lingkungan keluarga,” sebut Tina. (Nars)



