Finansial Kuningan Pemerintahan Pertanian

Lawan Fluktuasi Harga Pasar, Emak-Emak Kuningan Sulap Pekarangan Jadi ‘Supermarket’ Hidup

KUNINGAN – Naik turunnya harga kebutuhan pokok di pasaran sering kali menjadi momok yang memusingkan para ibu rumah tangga. Namun, di balik ancaman inflasi dapur dan fluktuasi harga bahan pangan, perempuan justru memegang senjata rahasia untuk menyelamatkan ekonomi keluarga.

Kuncinya ternyata ada pada pemanfaatan lahan sejengkal di halaman rumah.Ketimbang membiarkan pekarangan hanya berisi tanaman hias, area tersebut kini mulai didorong untuk disulap menjadi ‘supermarket’ mini yang hidup dan produktif.

Gagasan kemandirian ini menjadi sorotan utama dalam dialog pemberdayaan ekonomi perempuan yang digagas oleh Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Kuningan di Teras Pendopo, Sabtu (11/4/2026).

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Wahyu Hidayah, mengungkapkan bahwa perempuan adalah aktor paling strategis dalam rantai ketahanan pangan.

Perempuan bukan sekadar konsumen, melainkan manajer sejati yang menentukan kualitas gizi di meja makan sekaligus pemegang kendali efisiensi anggaran belanja saat harga pangan sedang tidak bersahabat.

Kalahkan Kota Bandung, Promosi Digital Disporapar Kuningan Sabet Predikat Terbaik se-Jabar di SWJ Award

“Pemanfaatan pekarangan ini adalah solusi paling taktis yang dampaknya langsung terasa di dompet masyarakat. Tidak butuh tanah yang berhektare-hektare. Cukup dengan pot, polybag, atau menyusun sistem vertikultur di tembok rumah, kebutuhan harian sudah bisa terpenuhi,” jelas Wahyu.

Aksi sederhana menanam sayur mayur daun, tanaman obat keluarga (biofarmaka), hingga komoditas hortikultura ini terbukti ampuh memangkas drastis pengeluaran harian tangga. Lebih dari sekadar strategi berhemat, hasil panen dari pekarangan yang dirawat konsisten juga bisa membuka keran penghasilan baru.

Sayuran segar bebas pestisida ini dapat dijual kembali ke tetangga atau diolah menjadi produk turunan berskala mikro.Meski terkesan mudah, Wahyu menilai gerakan ini butuh napas panjang dan tidak bisa hanya mengandalkan inisiatif individu.

Ia menantang simpul-simpul organisasi perempuan seperti Fatayat NU, Kelompok Wanita Tani (KWT), dan jejaring Dasawisma tingkat RT untuk memelopori tren bertani di pekarangan ini sebagai gerakan kolektif yang masif.

“Ketahanan pangan nasional itu fondasi awalnya justru berada di dapur tiap-tiap keluarga. Jika kapasitas perempuannya kuat dan pekarangannya berdaya guna, maka kedaulatan pangan daerah kita akan otomatis terjaga dengan kokoh,” jelasnya. (Nars)

Bupati Mangkir Temui Massa, HMI Kuningan Ancam Kepung Pemda dalam Aksi Jilid Dua

× Advertisement
× Advertisement