

KUNINGAN – Bayang-bayang gagal panen atau puso mendadak menghantui para petani padi di Kabupaten Kuningan. Serangan mematikan dari hama wereng daun hijau kini memaksa pemerintah daerah mengambil langkah drastis.


Tak tanggung-tanggung, taktik penanganan tidak lagi sekadar instruksi dari balik meja, melainkan diwujudkan dalam aksi turun langsung ke lumpur sawah untuk melancarkan serangan balasan.
- OJK Cirebon Gerakkan Budaya Menabung Pelajar Ciayumajakuning Sejak Dini
- Keterbatasan Anggaran Tak Surutkan Langkah Pemkab Kuningan Kebut Perbaikan Jalan Prioritas
- Panaskan Mesin Partai di Dapil 2 Kuningan, Neneng Hermawati Gelar Konsolidasi bersama 8 DPAC
- Sembunyi di Bawah Lemari Dapur, Kobra Jawa Sepanjang Satu Meter Dievakuasi Damkar Kuningan
- Kunjungi Padepokan PPCA Kuningan, Tina Wiryawati Dorong Regenerasi Atlet Pencak Silat Berprestasi
Kondisi darurat hama ini tecermin dari dilaksanakannya Gerakan Pengendalian (Gerdal) Organisme Pengganggu Tumbuhan di Desa Cikaso, Kecamatan Kramatmulya, Jumat (17/4/2026).
Area seluas 20 hektare menjadi arena ‘pertempuran’ utama melawan wereng daun hijau yang tak hanya mengisap cairan tanaman, tetapi juga bertindak sebagai vektor pembawa penyakit mematikan bagi padi.
Menariknya, di tengah kepanikan ancaman puso, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Wahyu Hidayah, memilih pendekatan yang tidak biasa. Alih-alih memberikan sambutan formal, ia memilih duduk lesehan di pematang sawah, berdialog dari hati ke hati, sekaligus membedah taktik perlawanan hama secara langsung bersama para petani.
“Ini bukan masalah sepele. Kalau salah langkah atau dibiarkan, serangan wereng ini bisa menyapu bersih hasil panen hingga 100 persen. Karena itu, perlawanan tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, harus serentak dalam satu hamparan agar populasinya hancur,” ungkap Wahyu saat dikonfirmasi di sela kegiatan.
Dalam sesi lesehan tersebut, Wahyu membongkar paradigma lama tentang pemberantasan hama. Ia menerangkan, ancaman puso tidak bisa selalu diselesaikan dengan ‘membabi buta’ menyiramkan racun ke sawah. Ia mengedukasi petani tentang pentingnya taktik Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang lebih cerdas dan ramah ekosistem.
Taktik ‘sakti’ tersebut meliputi pemantauan musuh alami wereng di lahan, penerapan pola tanam yang serempak untuk memutus rantai makanan hama, hingga pengelolaan air yang tepat. Namun, jika situasi memaksa, pemerintah daerah juga telah menyuntikkan bantuan pestisida untuk mengamankan lahan seluas 20 hektare tersebut.
“Penggunaan pestisida adalah benteng terakhir. Itu pun harus dieksekusi dengan prinsip empat tepat: tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, dan tepat cara penyemprotan. Keseimbangan alam tetap harus dijaga,” tambahnya membagikan resep ampuh basmi wereng.
Aksi blusukan dan strategi edukasi praktis di pematang sawah ini seolah memberikan amunisi baru bagi para petani. Di tengah ancaman kerugian besar, kehadiran fisik pemerintah dalam aksi penyemprotan serentak memberikan optimisme bahwa serangan wereng dapat ditumpas habis, sehingga kedaulatan pangan Kuningan tetap berdiri kokoh.



