KUNINGAN – Momen perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Persit Kartika Chandra Kirana (KCK) tidak dihabiskan dengan kegiatan seremonial semata di dalam gedung. Membawa semangat penyelamatan lingkungan, jajaran istri prajurit TNI ini justru memilih ‘turun gelanggang’ ke area Obyek Wisata Kebun Raya Kuningan (KRK) di Desa Padabeunghar, Kecamatan Pasawahan, untuk melakukan aksi penanaman pohon secara masif pada Jumat (17/4/2026).
Langkah penghijauan ini memotret sudut pandang menarik, di mana organisasi perempuan membuktikan kapasitasnya yang tidak sebatas pendamping suami, melainkan menjelma menjadi motor penggerak mitigasi bencana ekologis daerah.
- Resmi Naik! Harga Pertamax dan Pertamax Green 95 Meroket per 10 Juni 2026
- Polemik Dana Pokir PKS Kuningan: Mantan Dewan Soroti Etika Komunikasi, Fraksi Janjikan Evaluasi
- Dramatis, Petugas Gabungan di Kuningan Berhasil Bujuk Seorang Ibu yang Ingin Akhiri Hidup
- Satlantas Kuningan Tunda Jadwal Patuh Lodaya 2026, Polisi: Tertib Berlalu Lintas Jangan Tunggu Ada Operasi
- Soroti Anggaran Cetak BPKAD Rp 2,8 Miliar, Ketua LSM Frontal Sebut Kebijakan Bupati Kuningan Menghina Akal Sehat
Gerakan turun tangan ini turut menggandeng elemen srikandi lintas sektor, di antaranya Wakil Ketua Bhayangkari Polres Kuningan Cahyani, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup, Ketua DWP Kuningan Vina Usep, Ketua GOW Kuningan Hj. Rini Sujiyanti, hingga keterlibatan aktif kaum perempuan dari Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).
Ketua Persit KCK Cabang XXVI, dr. Azrida Hafda, menegaskan bahwa penanaman bibit pohon di kawasan KRK ini mengusung misi strategis yang jauh lebih besar dari sekadar formalitas perayaan ulang tahun. Aksi ini merupakan respons taktis terhadap kondisi geografis Kabupaten Kuningan yang rentan terhadap ancaman krisis lingkungan.
“Wilayah kita tidak terlepas dari bayang-bayang potensi bencana alam, terutama banjir dan tanah longsor. Oleh karena itu, upaya masif penghijauan ini adalah langkah konkret untuk memulihkan keseimbangan alam, memperbaiki kualitas lingkungan, sekaligus menekan risiko dampak bencana tersebut secara jangka panjang,” ungkap Azrida.
Menurutnya, menanam pohon di bentang alam Kuningan merupakan bentuk nyata investasi ekologis demi menjamin ketersediaan air dan kelangsungan hidup bagi generasi penerus.
Momentum usia ke-80 tahun ini, lanjut Azrida, menjadi tolok ukur kedewasaan organisasi untuk terus memberikan kontribusi yang terukur bagi masyarakat luas.
Meski demikian, ia memberikan satu catatan kritis sekaligus tantangan bagi seluruh pihak yang hadir. Tanggung jawab merawat bumi pantang usai begitu bibit selesai dimasukkan ke dalam tanah.
“Kita tidak boleh berhenti hanya pada proses menanam. Tantangan sesungguhnya adalah komitmen untuk terus merawat dan membesarkan pohon-pohon ini, sehingga kelak dapat tumbuh rimbun dan memberikan perlindungan serta manfaat ekologis yang nyata di masa depan,” tegasnya.
Aksi kolaboratif peduli bumi yang berlangsung kondusif hingga menjelang siang hari tersebut diharapkan tidak hanya menghijaukan kembali kawasan KRK, tetapi juga memantik kesadaran kolektif masyarakat Kuningan akan pentingnya gotong royong dalam menjaga harmoni ekosistem lokal. (Nars)














