KUNINGAN — Memasuki usia ke-19 tahun, Ikatan Penyuluh Keluarga Berencana (IPeKB) Kabupaten Kuningan menegaskan transformasi peran mereka di tengah masyarakat. Bukan lagi sekadar mengurus urusan alat kontrasepsi, para penyuluh kini bergerak sebagai garda terdepan dalam menurunkan angka stunting, mencegah pernikahan dini, dan memperkuat ketahanan ekonomi keluarga di wilayah berjuluk “Bumi Kuda” tersebut.
Pengurus DPD IPeKB Jawa Barat yang juga merupakan Penyuluh KB Ahli Madya, Dedi Suhandi, mengungkapkan tantangan di lapangan selama hampir dua dekade tidaklah mudah. Geografis pegunungan di lereng Ciremai, cuaca ekstrem, hingga stigma dan hoaks di masyarakat menjadi makanan sehari-hari para penyuluh.
- 19 Tahun Mengabdi, Penyuluh KB Kuningan Fokus Berantas Stunting dan Cegah Pernikahan Dini
- Dukung Kebangkitan Ekonomi Petani, Rumah Tani Optimis Rumah Sayur PDAU Kuningan Mampu Serap Komoditas Lokal
- Wujudkan Ketahanan Pangan, Warga Mekarsari Sulap Dana Desa Jadi Irigasi Strategis Lewat Swakelola
- Ketua DPRD Kuningan Nuzul Rachdy Sebut Kritik Pers Ibarat ‘Jamu’: Kami Tidak Boleh Tipis Kuping
- Antisipasi Puncak Kemarau, Kuningan Tetapkan Status Siaga Darurat Karhutla dan Bakal Gelar Mitigasi
“Dulu masyarakat sering beranggapan bahwa KB itu murni urusan bidan. Selain itu, membicarakan kesehatan reproduksi remaja di pedesaan masih dianggap tabu oleh para orang tua,” ungkap Dedi saat merefleksikan 19 tahun perjalanan IPeKB Kuningan.
Untuk mengatasi hal tersebut, Dedi menjelaskan, penyuluh KB Kuningan mengadaptasi strategi komunikasi berbasis kearifan lokal. Mereka turun langsung ke saung, warung, posyandu, hingga majelis taklim dengan menggunakan bahasa daerah yang santun, serta menyelipkan pesan edukasi melalui perumpamaan wayang dan humor.
Pendekatan kultural dan kolaborasi lintas sektor—melibatkan tokoh agama, kepala desa, hingga Karang Taruna—terbukti membuahkan hasil. Dedi mencatat adanya tren positif berupa mencairnya stigma, menurunnya kasus stunting, dan berhasilnya upaya pencegahan pernikahan usia anak.
“Ada satu kisah di mana anak ketiga dari keluarga buruh serabutan mengalami gizi buruk. Setelah kami dampingi dan ibunya rutin mengikuti kelas pola asuh, anak tersebut kini tumbuh sehat dan ceria di bangku SD. Bahkan, sang ibu kini berbalik menjadi kader terbaik di desanya,” cerita Dedi membagikan salah satu keberhasilan timnya.
Di tempat lain, Dedi juga menyebutkan keberhasilan menunda pernikahan dini seorang remaja yang nyaris putus sekolah. Berkat intervensi dan diskusi bersama orang tua serta pihak sekolah, remaja tersebut kini berhasil melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi di Cirebon.
Seiring dengan perubahan nomenklatur menjadi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, IPeKB Kuningan kini berfokus mengawal program Bangga Kencana. Program ini memperluas tanggung jawab penyuluh untuk memastikan anak-anak tidak putus sekolah, ibu-ibu terjaga kesehatannya, hingga memastikan kesejahteraan para lansia.
Menyambut usia ke-19 tahun, Dedi menyampaikan, IPeKB Kuningan membawa tiga komitmen utama untuk masa depan.”Pertama, kami akan terus meningkatkan profesionalisme melalui literasi digital dan penguasaan data. Kedua, kami memperkuat kolaborasi dengan Pemda dan mitra lintas sektor tanpa memperdebatkan dikotomi ASN Pusat dan Daerah. Ketiga, kami memastikan setiap program berdampak langsung dan terukur bagi keluarga, bukan sekadar seremonial,” rinci Dedi.
Bagi para penyuluh KB di Kuningan, pengabdian mereka mungkin tidak selalu viral di media sosial. Namun, setiap anak yang lahir sehat dan keluarga yang mandiri di Kabupaten Kuningan adalah bukti nyata dari pendampingan tanpa henti yang mereka lakukan di lapangan.(Nars)















