Kuningan Pendidikan

Sambut Arahan Prof. Ma’mun Murod, PK IMM Djazman Al-Kindi Ajak Civitas Akademika UM Kuningan Perkuat Sinergi dengan Ortom

KUNINGAN – Isu sentimen dan ego organisasi di lingkungan perguruan tinggi belakangan menjadi sorotan tajam. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Universitas Muhammadiyah (UM) Kuningan secara tegas meminta seluruh civitas akademika menyingkirkan sekat latar belakang masa lalu demi kelancaran proses kaderisasi mahasiswa.

Sikap ini merupakan respons langsung atas kritik keras yang dilontarkan Ketua Umum PP FOKAL IMM, Prof. Dr. Ma’mun Murod, M.Si.

Sebelumnya, dalam sebuah forum di Medan, Sabtu (18/4), Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta itu menyoroti fenomena pejabat kampus di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) yang justru kerap mempersulit ruang gerak IMM.

Menyikapi hal tersebut, Ketua PK IMM Djazman Al-Kindi UM Kuningan, Ridho Juliano, menilai teguran Prof. Ma’mun bukan sekadar kritik normatif, melainkan teguran keras yang harus dibenahi secara struktural, terkhusus di internal UM Kuningan.

“Pernyataan Prof. Ma’mun adalah pengingat riil bagi kita. Harapannya, seluruh elemen kampus dapat berjalan beriringan dengan IMM tanpa lagi terhalang oleh sekat-sekat atau ego organisasi di masa lampau,” ujar Ridho dalam keterangan tertulisnya, Ahad (19/4).

Seleksi Calon Kadis Hanya Diikuti 67 Pejabat Eselon III, Pengamat Soroti Sistem Data Manajemen Talenta BKPSDM Kuningan

Ridho mengingatkan bahwa fungsi utama Amal Usaha Muhammadiyah (AUM)—termasuk universitas—adalah mencetak sumber daya manusia (SDM) yang unggul, bukan sekadar memamerkan kemegahan infrastruktur fisik.

Menurutnya, IMM bersama Tapak Suci dan Hizbul Wathan (HW) adalah pilar strategis penjaga ideologi persyarikatan yang wajib difasilitasi, bukan dianakirikan.

“Kekayaan tertinggi sebuah organisasi itu bukan pada seberapa luas tanah atau seberapa megah gedungnya, melainkan seberapa banyak SDM berkualitas yang dihasilkan. Jika bukan kita yang menghidupkan rumah ini, siapa lagi?” ujarnya.

IMM UM Kuningan mendesak agar praktik birokrasi kampus yang kaku atau hambatan yang dilandasi subjektivitas kelompok tidak lagi terjadi. Ridho mengajak seluruh pemangku kebijakan di kampus untuk kembali fokus pada visi besar persyarikatan.

“Mari kita lupakan ego sektoral organisasi masa lalu. Saat ini, kita berada di bawah payung besar Muhammadiyah. Menghidupkan organisasi otonom adalah investasi mutlak bagi masa depan keberlanjutan UM Kuningan,” kata Ridho. (Nars)

Diwarnai Kartu Merah, Persib Bandung Susah Payah Tahan Imbang Dewa United 2-2

× Advertisement
× Advertisement