

KUNINGAN – Isu sentimen dan ego organisasi di lingkungan perguruan tinggi belakangan menjadi sorotan tajam. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Universitas Muhammadiyah (UM) Kuningan secara tegas meminta seluruh civitas akademika menyingkirkan sekat latar belakang masa lalu demi kelancaran proses kaderisasi mahasiswa.
Sikap ini merupakan respons langsung atas kritik keras yang dilontarkan Ketua Umum PP FOKAL IMM, Prof. Dr. Ma’mun Murod, M.Si.
- Isu Geothermal Gunung Ciremai Mencuat Lagi, Ketua Fraksi PDIP Kuningan Sentil Pemda Tak Punya Sikap Jelas
- Ratusan Hektare Hutan Subang Ditanami Kopi Ilegal, Rana Suparman Desak Penyelamatan Gunung Kendeng
- Klarifikasi Sanksi RS Permata, DLH Kuningan: Uang Masuk Negara
- Perjuangan Tanpa Henti Tim Gabungan Padamkan Karhutla Kuningan, Melawan Angin dan Bara di Lereng Ciremai
- Bantah Tak Hormati DPRD, Wabup Kuningan Sebut Kepala SKPD Absen Paripurna karena Kawal “Bupati Saba Lembur”
Sebelumnya, dalam sebuah forum di Medan, Sabtu (18/4), Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta itu menyoroti fenomena pejabat kampus di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) yang justru kerap mempersulit ruang gerak IMM.
Menyikapi hal tersebut, Ketua PK IMM Djazman Al-Kindi UM Kuningan, Ridho Juliano, menilai teguran Prof. Ma’mun bukan sekadar kritik normatif, melainkan teguran keras yang harus dibenahi secara struktural, terkhusus di internal UM Kuningan.
“Pernyataan Prof. Ma’mun adalah pengingat riil bagi kita. Harapannya, seluruh elemen kampus dapat berjalan beriringan dengan IMM tanpa lagi terhalang oleh sekat-sekat atau ego organisasi di masa lampau,” ujar Ridho dalam keterangan tertulisnya, Ahad (19/4).
Ridho mengingatkan bahwa fungsi utama Amal Usaha Muhammadiyah (AUM)—termasuk universitas—adalah mencetak sumber daya manusia (SDM) yang unggul, bukan sekadar memamerkan kemegahan infrastruktur fisik.
Menurutnya, IMM bersama Tapak Suci dan Hizbul Wathan (HW) adalah pilar strategis penjaga ideologi persyarikatan yang wajib difasilitasi, bukan dianakirikan.
“Kekayaan tertinggi sebuah organisasi itu bukan pada seberapa luas tanah atau seberapa megah gedungnya, melainkan seberapa banyak SDM berkualitas yang dihasilkan. Jika bukan kita yang menghidupkan rumah ini, siapa lagi?” ujarnya.
IMM UM Kuningan mendesak agar praktik birokrasi kampus yang kaku atau hambatan yang dilandasi subjektivitas kelompok tidak lagi terjadi. Ridho mengajak seluruh pemangku kebijakan di kampus untuk kembali fokus pada visi besar persyarikatan.
“Mari kita lupakan ego sektoral organisasi masa lalu. Saat ini, kita berada di bawah payung besar Muhammadiyah. Menghidupkan organisasi otonom adalah investasi mutlak bagi masa depan keberlanjutan UM Kuningan,” kata Ridho. (Nars)



